Pemalu, Pendiam, atau Kurang Asupan Bahasa?

Sering kita dengar seorang anak remaja mengidentifikasi diri sebagai sosok pemalu-pendiam dan menerimanya begitu saja sebagai pembawaan atau sifat diri. Namun, di kemudian hari anak itu menemukan suat pemicu yang menyebabkan tumbuh atau bangkitnya kepercayaan diri dan tiba-tiba saja dia menjadi seorang pembicara yang efektif. Sehingga sosok pemalu dan pendiam itu pun lenyap, dan ternyata bukan “bakat bawaan”.

Di dunia nyata, ada pula guru atau dosen yang secara keilmuan dalam bidang tertentu tidak diragukan keahliannya. Diploma pendidikan formalnya pun sesuai dengan bidang yang diajarkannya. Namun, guru atau dosen itu memiliki hambatan dalam menyampaikan pelajaran atau kuliah, sehingga para murid atau mahasiswanya kesulitan menangkap materi-materi yang disampaikan. Pendeknya, dia ilmuwan hebat tapi bukan guru atau dosen favorit.

Dalam kasus lain, ada sarjana dengan “prestasi akademis” yang sangat bagus bahkan sejak masa sekolah dasar. Kepribadiannya pun tidak ternoda perilaku-perilaku negatif. Namun, ketika memasuki dunia kerja, kariernya tidak semulus “prestasi akademis”-nya. Keterampilan berkomunikasinya tidak berkembang dan dia cenderung menjadi pekerja soliter serta memiliki hambatan dalam hal team-working.

Sifat pendiam, pemalu, introvert, atau apapun namanya, ketika diterima dan terbentuk hingga dewasa, boleh jadi merupakan sifat yang sulit diubah. Namun, dalam konteks pendidikan, terutama pendidikan usia dini, sifat pendiam-pemalu seyogyanya bukanlah sifat yang diterima begitu saja sebagai “bakat bawaan”. Sebab, pendidikan ada bukan untuk pasrah menerima faktor-faktor yang kelak bisa menjadi penghambat anak dalam menjalankan peran-peran kehidupannya. Pendidikan ada untuk menghadirkan ikhtiar-ikhtiar, baik internal maupun eksternal diri anak, agar-agar faktor-faktor penghambat itu berkurang atau bahkan hilang. Pendidikan ada bukan hanya untuk mengantarkan anak lulus dari satu jenjang ke jenjang berikutnya dengan angka-angka nilai tinggi. Pendidikan ada untuk kehidupan anak.

Salah satu bekal dasar kehidupan yang krusial, namun sering terabaikan karena kecenderungan pola pikir yang “prestasi-akademis-sentris”, adalah kemampuan berbicara dan berbahasa (speech and language skills). Dalam terminologi teori kecerdasan jamak Howard Gardner, kecerdasan linguistik adalah satu dari tujuh kecerdasan yang memengaruhi kesuksesan seseorang. Lebih dari itu, belajar logika-matematika mula-mula adalah belajar bahasa. Belajar notasi musik mula-mula adalah belajar bahasa. Belajar kode-kode rumit pemrograman komputer mula-mula adalah belajar bahasa.

Bisa terjadi, seorang anak diajak menempuh jalan pintas menguasai kemahiran prosedural, seperti operasi perkalian, pembagian secara cepat dengan resep-resep mental aritmetika. Namun, keahlian matematika menjadi lebih bermakna jika ditopang oleh pondasi pemahaman konsep (conceptual understanding) yang kokoh. Anak bisa memainkan alat musik dengan bagus dari belajar “langsung”. Tapi, pengetahuan tentang notasi musik akan memberinya pilihan-pilihan dan kesempatan yang lebih kaya untuk berkomunikasi dengan pemusik lain. Seorang programmer komputer akan memiliki kesempatan belajar lebih banyak jika dia memiliki keterampilan berkomunikasi yang baik dengan programmer lain.

Jadi, sebaiknya tidak terburu-buru “puas” dengan persepsi sejenis: “Saya ini orangnya pemalu”, “Anak saya orangnya pendiam”. atau “Murid saya yang satu itu memang agak tertutup”. Cobalah telusuri, sudah cukupkah asupan dan paparan berbahasa yang diterima oleh “Saya”, “Anak Saya”, “Murid Saya”? Karena sangat mungkin, apa yang dipersepsi sebagai sifat bawaan “pendiam-pemalu-tertutup-introvert” itu sebetulnya adalah masalah kurangnya asupan dan paparan berbahasa yang memadai.

Cobalah tengok bagaimana masa tujuh tahun pertama kehidupan “Saya”, “Anak Saya”, “Murid Saya”. Ya, tujuh tahun “Golden Age”, usia emas. Dan dari rentang jendela sempit itu, yang paling krusial adalah pada dua tahun pertama kehidupan anak, karena pada periode itulah berlangsung pertumbuhan paling intensif dan paling cepat jaringan antarsel otak. Karena itu, seorang ibu seyogyanya tidak menyia-siakan kesempatan berbicara dan memberi paparan bahasa yang baik, benar dan lengkap. Bahkan saat pamit kepada bayi ke kamar kecil. “Ibu ke kamar mandi sebentar untuk buang kecil.” Sebisa mungkin, iringilah setiap gerakan atau tindakan dengan artikulasi kalimat-kalimat yang baik. Misalnya, “Ibu mengusapkan minyak telon ke perut dan dada Ananda agar Ananda hangat dan nyaman.” “Ibu memakaikan baju berwarna putih yang halus ini agar tubuh Ananda terlindung.” “ALhamdulillah, Ananda bisa menyusu dengan lahap. Ananda butuh zat-zat makanan supaya bisa bergerak, bermain dan tubuh Ananda bisa tumbuh dengan baik.”

Pembelajaran Metode Sentra menempatkan asupan dan paparan bahasa sebagai salah satu unsur elementer dalam pengalaman belajar. Prinsip ini bertumpu pada pemahaman bahwa asupan dan paparan bahasa itu akan berimbas pada kualitas daya nalar anak. Karenanya, selain menyediakan pengalaman berbahasa yang kaya, para guru menggunakan kalimat-kalimat berstruktur lengkap dan benar saat berkomunikasi dengan anak.

Mari bangun generasi yang cakap berbahasa untuk masa depan yang lebih baik.

iklan-terbit

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s