Mana Lebih Penting, Masjid Monumen atau Pendidikan Monumental?

Seandainya masjid berbiaya satu triliun rupiah di Bandung itu kelak benar-benar berdiri, saya sama sekali tak bisa membayangkan apakah ada kenikmatan beribadah di sana nanti. Keraguan muncul karena pikiran saya, begitu mendengar tentang ambisi pemerintah Provinsi Jawa Barat itu, langsung tertuju kepada Sekolah Batutis Al-Ilmi di Pekayon, Bekasi.

Soal ketenaran, Sekolah Batutis mungkin tak sebanding dengan masjid yang belum dibangun saja sudah terkenal. Pun gedung sekolahnya baru sebagian yang milik sendiri (berkat bantuan seorang donatur bersama beberapa rekannya). Gedung lain yang digunakan sebagai tempat belajar masih berstatus sewa. Jadi, yang dimaksud “Pendidikan Monumental” dalam judul tulisan ini bukan atribut sekolah Batutis Al-Ilmi –saat ini belum monumental.

Tapi, sekurang-kurangnya Sekolah Batutis Al-Ilmi punya sesuatu yang membuat saya sebagai waga Jawa Barat (tinggal di Bogor) ikut terharu biru. Sebab, sekolah gratis untuk kaum dhu’afa yang dimulai dari garasi pada tahun 2005 itu kini hampir sepanjang tahun didatangi guru-guru dari kawasan Jabodetabek dan berbagai penjuru wilayah Indonesia, barat sampai timur.

Pelatihan guru Batutis

Pelatihan 2
[Suasana Pelatihan Guru di Sekolah Batutis Al-Ilmi]

Bukan bertamasya seperti mengunjungi Masjid Kubah Emas, tentu saja. Para guru, termasuk dari sejumlah sekolah elite Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota di lain di Jawa maupun di luar Jawa, itu datang untuk mengikuti pelatihan. Ya, Sekolah Batutis Al-Ilmi, yang mengasuh anak-anak dari usia 1,5 tahun (Baby House) sampai kelas VI SD itu menjadi sekolah laboratorium pelatihan Metode Sentra.

Kali ini saya tak hendak menulis tentang Metode Sentra dan pelatihannya. Saya hanya ingin mengasah kembali keterampilan berhitung saya. Dulu, waktu sekolah saya pernah punya nilai Matematika yang rada lumayan, tapi sudah banyak pengetahuan tentang Matematika yang sudah terlupakan karena hampir tidak pernah terpakai lagi. Jadi, saya mau mengasah keterampilan berhitung saja. Mudah-mudahan masih ada.

Kalau uang satu triliun rupiah itu sama dengan seribu miliar rupiah, berarti cara menulisnya adalah angka satu diikuti deretan 0 sebanyak dua belas. Ah, jadi panjang. Maksud saya, seribu miliar itu lebih besar dari seribu dikali biaya operasional Sekolah Batutis selama satu tahun.

Atau, jika pemerintah Provinsi Jawa Barat punya seribu sekolah seperti Batutis, yang masing-masing mengasuh 100 anak kaum dhu’afa dengan model pembelajaran yang bermutu dan keren, uang buat membangun masjid itu cukup untuk biaya operasionalnya selama setahun.

Kalau ingin cukup buat lima tahun, ya berarti “hanya” 200 sekolah saja. Artinya, “hanya” 20 ribu anak kaum dhu’afa saja yang bisa dibiayai pendidikannya di sekolah bermutu. Termasuk biaya kudapan pagi dan makan siang buat anak-anak dan guru.

Tapi, sebentar, ya. Biaya operasional setahun Sekolah Batutis yang tak sampai 100 juta sebulan itu sebetulnya sekitar 70 persennya tersedot biaya gaji guru. Wah, saya jadi kepikiran seandainya pemerintah provinsi Jawa Barat bisa “mendompleng” biaya gaji guru ke anggaran pemerintah pusat (Kementerian Pendidikan). Silakan, tolong dihitungkan, saya mau buka buku Matematika lagi.

Hanya angan-angan saja, kalau Jawa Barat punya 200 sekolah laboratorium pelatihan guru, mungkin itu yang lebih layak disebut pendidikan monumental. Boleh jadi pengunjungnya bakal lebih banyak dari wisatawan penikmat masjid monumen. Itu hanya lamunan saya, ga tahu kalau Mas Anang.

Advertisements

2 thoughts on “Mana Lebih Penting, Masjid Monumen atau Pendidikan Monumental?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s