Puasa Pertama Nadin, Madrasah untuk Saya

Bisa dikatakan, saya termasuk orangtua yang tidak berhasil mulus membelajarkan puasa lebih dini pada anak-anak. Dulu, si sulung praktis baru mulai puasa “full” dari kelas III SD. Adiknya, puteri kami nomor dua, pun sekitar usia itu baru bisa menjalankan puasa penuh dari fajar sampai Maghrib. Maka, ketika si bungsu Nadin tahun ini mulai mencoba puasa setengah harian (dua kali berbuka) saya tak bisa berkespektasi lebih dari itu.

Tak terelakkan, berkelebat juga rasa gelisah dalam hati kala mendengar kabar gembira teman-teman sebaya Nadin (kini 7 tahun 8 bulan) di kampung halaman sudah lancar berpuasa. Bahkan anak-anak yang usianya jauh lebih muda dari Nadin pun sudah sanggup menjalankannya. Tapi, saya sudah berbulat hati untuk mengesampingkan model motivasi membanding-bandingkan dia dengan anak lain. Dalam pemahaman saya, kegembiraan mencapai kemajuan atau sense of accomplishment dengan motivasi internal (betapun kecilnya) lebih bermakna ketimbang pencapaian besar yang terdorong motivasi eksternal. Karenanya, pembandingan hanya dengan dirinya sendiri (relative to her own pace).

Namun, di situlah justru masalah besar yang saya hadapi sebagai orangtua. “Keberhasilan” berpuasa anak-anak sejak si sulung yang akan naik kelas V (setingkat kelas II SMA) adalah berkat tradisi salah kaprah turun-temurun ke anak kedua, Negar, dan kini sampai ke Nadin. Ya, tradisi iming-iming nominal rupiah per hari puasa. Belum lagi timbunan ekspektasi yang bertumpuk dalam pikirannya bahwa hadiah serupa bakal didapat dari Pak Dhe, Budhe, para Bu Lik, Mbah Kung, Mbah Uti….

Nadin-1
Saya tidak mau memenggal begitu saja ekspektasi itu, tapi saya juga belum menemukan skenario yang tepat untuk menggeser konsep iming-iming berpuasa agar mudah dicerna. Sampailah Senin kemarin, hari kedelapan bulan Ramadhan 1437 H, Nadin akhirnya sanggup berpuasa dari fajar sampai Maghrib. Pemicunya pun bukan sesuatu yang bisa saya banggakan, tetap tradisi iming-iming, bahkan lebih parah.

Ceritanya, saat bersantai bersama seusai berbuka puasa, Nadin menghitung-hitung jumlah imbalan yang sudah “berhasil” dia kumpulkan berdasarkan iming-iming yang sudah ditetapkan ibunya. Entah kenapa lisan saya tiba-tiba latah nyeletuk, “kalau sampai Maghrib, Rp. 15 ribu” Eh, ibunya mempertegas lagi, “Tuh, kata Bapak 15 ribu, kalau Nadin puasa sampai Maghrib.” Dan, dengan rasa percaya diri, Nadin menyahut, “Ya, aku mau. Tapi, di tambah permen yang dulu Bapak belikan ya?”, seraya menyebut merek pastiles.

Hmmm…. ini keceplosan yang kian merumitkan, tapi tak boleh dibatalkan. Komitmen adalah komitmen. “OK, deal!” Dan kemarin Nadin berhasil menuntaskan puasa pertamanya. Saya berpikir keras bagaimana cara meluruskan konsep beribadah yang sudah terlanjur salah kaprah itu. Tak ketemu. Tapi, saya bertekad kinilah saatnya mengajak Nadin berbicara tentang hal prinsip itu.

Saat makan sahur tadi, saya mudah sekali membangunkan Nadin dan kakaknya. Saya bisikkan “permennya sudah ada”. Malamnya saya tidak sempat ketemu karena pulang agak larut dan mereka sudah tertidur. Well, keduanya pun lahap menyantap hidangan sahur. Usai makan sahur, seraya menanti waktu shalat subuh, saya mulai ajak Nadin bicara, dan kakaknya ikut menyimak.

“Alhamdulillah, Nadin akhirnya berhasil tuntas sampai Maghrib.” Senymnya merekah.

“Nadin, kalau cuma dari Bapak dan ibu, itu kecil. Berapa lama permen itu akan habis?”

“Mmmm 40 hari, kan isinya ada 40.”

“Oh, satu hari satu permen?” Dia hanya mengangguk.

“OK, uang yang lima belas ribu, pun tidak banyak. Kenapa? Allah punya yang jauh lebih banyak.”

Saya lihat dia menatap antusias. “Ya, Bapak bisa membeli permen buat Adek, karena Allah memberi rejeki. Kamu tahu, Allah sangat sayang sama anak kecil yang sudah berani mencoba berpuasa. Dan, tentu Allah lebih sayang lagi, karena Nadin sudah berhasil berpuasa sehari penuh.”

Bukan hanya Nadin yang tertarik. Negar pun antusias mengikuti pembicaraan (in fact, she voluntarily dropped her insist on taking the same rewards as whatever Nadin got for fasting). Berpuasa harus ikhlas, kata Kakak.

“Nadin, berat ya? Tapi, ternyata Nadin bisa. Apa kamu tadinya merasa tidak akan berhasil?”

Nadin hanya mengangguk.

“Mengapa Nadin bisa bertahan?”

“Karena Allah memberi kuat perut Nadin.”

Ya Allah, dia mengucapkan itu. Semoga dia benar-benar bisa mencerna  pemahaman yang semestinya, dan saya akan terus belajar sabar menemani anak-anak agar mereka semua tumbuh lancar sesuai fitrah mereka.

Hari ini, Nadin masih tetap meminta sekali lagi imbalan 15 ribu (cukup dua kali saja, katanya, tidak usah permen), dan dia akan bertekad untuk berpuasa sampai Maghrib. “Tapi, puasa sampai Maghribnya mulai besok, ya Pak? Hari ini Nadin mau buka zhuhur.”

Hmmm….. OK, Dear, it takes time for you to learn things. Setiap orang butuh waktu untuk belajar. Bapak dan ibu pun tak henti belajar, belajar dari kesalahan, belajar untuk terus meperbaiki diri. Kita semua tak henti belajar. Semoga Allah ridho atas setiap ikhtiar kita. Amin ya Rabbal ‘alamin.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s