Bangsa yang Digerakkan Iming-iming

Pada tanggal 9 Mei lalu saya menulis status di Facebook seperti ini:

Beli rumah dapat hadiah kulkas. Beli sabun dapat hadiah gelas. Beli tiga gratis satu. Ranking satu dapat laptop. Hafal 15 juz dapat beasiswa. Bangsa yang digerakkan iming-iming, knowing nowhere to go.

Ternyata banyak teman yang merasakan kegelisahan yang sama. Betapa sebagai bangsa kita lebih banyak digerakkan oleh iming-iming eksternal dalam melakukan kebaikan, ketimbang oleh suatu inner motivation, atau kesadaran akan manfaat dan kebahagiaan dari apa yang kita lakukan. Dalam kehidupan nyata banyak contohnya, selain contoh-contoh menggelikan di atas. Bahkan untuk salah satu hal yang paling penting dalam kehidupan, belajar. Saya tak habis mengerti ketika banyak guru mengajukan argumentasi dalam mendukung Ujian Nasional. Kata mereka, kalau tidak ada Ujian Nasional, sulit memotivasi anak untuk belajar.

Pagi ini saya dikirimi Mas Yudhistira Massardi sebuah link tulisan di koran The New York Times yang membahas tentang bagaimana memotivasi anak agar cinta buku dan gemar membaca buku. Dahi saya berkerut karena yang dikirim bukan link ke artikel opini yang berjudul “The Right Way to Bribe Kids to Read”. Tapi, link ke reaksi pembaca artikel dalam rubrik “surat-pembaca”-nya. http://www.nytimes.com/2016/08/01/opinion/on-getting-the-children-to-read.html?emc=edit_tnt_20160801&nlid=29600537&tntemail0=y

Wow, ternyata senada seirama. Para pembaca mencibir habis kata “bribe” (suap) dalam artikel tersebut. Cinta buku dan gemar membaca tidak bisa dibangun dengan suap. Ada beberapa kalimat dalam reaksi para pembaca itu yang makjleb bagi saya. “Books fight for priority between laptps and iPhones.” Bayangkan, bukulah sekarang yang “berjuang” meraih prioritas dalam bersaing dengan laptop dan iPhone. Fight harder and harder, sih, kalau menurut saya.

Tapi, ada satu kalimat yang memberi insight mendalam. Almost all children are naturally curious and motivated to learn when they are free to do so. When they discover early that reading will provide answers to their questions in a dependable way that they can control, that’s when a lifelong love of reading and learning can begin. [Hampir semua anak punya dorongan dan motivasi alamiah untuk belajar ketika mereka merasakan keleluasaan untuk melakukannya. Ketika mereka tahu lebih dini bahwa dengan membaca mereka mendapat jawaban yang bisa diandalkan atas pertanyaan-pertanyaan mereka, maka itulah momen ketika cinta baca dan cinta belajar sepanjang hidup bisa dimulai.]

Sebetulnya, setelah saya baca, artikel opini yang ditulis KJ DELL’ANTONIA itu menggambarkan kondisi dan realitas yang tidak sederhana. Dalam artikel tersebut Dell’Antonia menceritakan putra-putrinya tengah menikmati liburan musim panas. Tapi, dia merasa harus melakukan sesuatu agar putra-putrinya lebih siap menghadapi permulaan tahun ajaran baru di musim gugur (akhir Agustus ini). Maklum, katanya, mereka adalah anak-anak dari kalangan keluarga berpendapatan rendah dan menghadapi problem kesulitan bahasa, yang berarti akan menjadi kendala belajar tersendiri.

Anak-anak itu pun, katanya, punya waktu banyak untuk membaca dan banyak buku tersedia untuk mereka. Tapi, di musim liburan? Maka, pilihannya adalah “menyuap”. Sekurang-kurangnya sebagai langkah darurat untuk menumbuhkan cinta baca. Dan, menurut survei yang dikutip Dell”Antonia, 60 persen orangtua anak usia 3-8 tahun mengaku memberi imbalan kepada anak-anaknya untuk membaca. Ada yang membayar per buku, per halaman, per menit dengan uang jajan atau belanja ke toko mainan.

Waduh, sama saja. Tapi, saya tetap lebih gelisah dengan masalah ini ketimbang urusan full-day school atau yang lain. Inner motivation, cinta buku, cinta belajar. Rasa-rasanya (maaf nih, karena saya bukan peneliti dan akademisi), inilah problem serius dalam dunia pendidikan kita. Dan ini membuat saya semakin yakin model pembelajaran Metode Sentra yang menekankan unsur “happy learning” adalah solusi yang sangat menjanjikan.

Kalau saja Pak Mendibud Muhadjir Effendy mau menengok. Ah, biar sajalah, yang penting saya akan terus berusaha mengkampanyekan dari orang-orang terdekat, atau yang mau membaca tulisan-tulisan saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s