Banyak Problem Bangsa Bersumber dari Salah Didik di TK

Anak-anak yang belajar di TK dengan model Metode Sentra belajar tentang peran-peran kehidupan di Sentra Main Peran. Sentra Main Peran itu seperti main mamah-mamahan atau dokter-dokteran dalam keseharian di rumah. Tapi, di sana ada prosedur, aturan dan penanaman pengetahuan serta pemahaman agar mereka mampu mengenali diri dan menempatkan diri dalam kehidupan nyata.

Salah satu prosedurnya adalah memilih peran. Karena bermain bersama, di sini anak usia dini sudah mulai belajar menghargai teman, belajar berkompromi, dan belajar meluaskan cakrawala pandangan. Pada Kelompok TK B, bagian ini sering bisa berlangsung lama. Penyebabnya, faktor ego yang masih tumbuh alamiah pada fase menjelang usia tujuh tahun membuat anak ingin dominan. Anak TK sudah tahu peran-peran yang bakal membuatnya merasa asyik, seperti alat-alat bermain yang bisa dipakai.

Di situlah guru dituntut untuk bekerja keras dan kreatif menciptakan suasana permainan yang menyenangkan bagi semua anak. Guru bisa menstimulasi pemahaman dan keativitas anak bahwa peran-peran yang tak diminati anak juga menyenangkan. Pun, guru harus selalu mengingatkan bahwa setiap anak bertanggungjawab atas peran yang dipilihnya dan alat-alat main yang digunakan, termasuk membereskannya setelah bermain.

Ketika anak-anak bermain, guru harus terus siaga untuk memastikan permainan berlangsung lancar dan bermakna. Termasuk di dalamnya memberi pijakan bila diperlukan, seperti meluruskan pemahaman anak, menghindarkan pemahaman-pemahaman yang tidak logis, mencegah konflik, menghindarkan kata-kata yang tidak bermutu, membantu tumbuhnya imajinasi anak dan lain-lain.

Semua itu menjadi asupan gizi mental dan intelektual yang sangat berharga bagi kehidupan anak di kemudian hari. Sayang sekali, dalam paradigma pendidikan yang serba numerikal, di mana prestasi hanya diukur dengan menghitung jumlah jawaban benar pada soal-soal ujian, asupan-asupan elementer itu terlupakan, bahkan sejak TK. Akibatnya, para lulusan sekolah dan perguruan tinggi lebih banyak limbung dalam kehidupan nyata.

Anak-anak yang belajar memahami peran kehidupan sejak kecil tidak akan salah memilih peran dan menjalankan peran kehidupannya di kemudian hari. Orang-orang memilih peran antagonis karena belajar dari sinetron. Orang-orang memilih peran sebagai pendengki, pembenci, tukang nyinyir, penyebar fitnah & hoax karena mereka tidak tahu banyak peran produktif dalam kehidupan yang bisa dilakukan. Maklum, mereka bahkan tidak tahu bahwa hal-hal yang tidak produktif itu sesungguhnya bukanlah peran.

Akibatnya, negeri yang dianugerahi kekayaan alam nan berlimpah ini dihuni lebih banyak orang yang tak tahu peran apa yang harus dijalankannya. Ketika sudah mendapatkan peran, pun banyak yang tak tahu bagaimana bertanggungjawab atas perannya.

simulasi main sentra peran1.jpg
[Simulasi Main Peran dalam Pelatihan Metode Sentra untuk para guru dari lima wilayah DKI Jakarta, 2-5 November 2015, dengan para trainer dari Sekolah Batutis Al-Ilmi]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s