Matriks Hubungan Korupsi dan Pendidikan

Sudah 119 anggota Dewan, 15 gubernur dan 50 bupati/walikota terjerat kasus korupsi, kata KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Percayalah, angkanya akan terus bertambah sampai ada #RevoluisiPendidikanDasar. Patut diwaspadai adanya korelasi atau hubungan antara korupsi dan pendidikan.

Mengapa begitu? Sebab, dunia persekolahan mengandung kekeliruan sistemik di bagian pondasinya.

Kekeliruan-kekeliruan dalam persekolahan

Berikut ini adalah kekeliruan-kekeliruan mendasar dalam persekolahan yang berlaku di negara kita. Kekeliruan-keliaruan itu berlangsung sejak pendidikan dasar, bahkan pendidikan anak usia dini:

1. Sekolah diniatkan untuk menyiapkan kehidupan yang mudah bagi anak. Kehidupan yang mudah didapat dari pekerjaan yang enak. Pekerjaan yang enak didapat dengan ijazah kesarjanaan dari perguruan tinggi dan jurusan favorit. Untuk menuju ke sana anak harus berkompetisi sejak tingkat SD, SMP, dan SMA.

2. Akibatnya, sekolah sejak SD, bahkan sejak TK atau pendidikan anak usia dini, diterima sebagai jalur linear menuju kehidupan yang mudah dan untuk itu harus diupayakan dengan segala cara meraih posisi-posisi yang dianggap paling potensial di jalur tersebut: SD favorit, SMP favorit, SMA favorit.

3. SD favorit, SMP favorit, SMA favorit diadakan bukan untuk anak-anak yang dicap “biasa-biasa” saja. Karena sekolah yang favorit selalu minoritas sejak zaman kemerdekaan, maka sejak dahulu kala, mayoritas anak Indonesia sudah diterima sebagai anak-anak yang “biasa-biasa” saja.

4. Sekilas tampak seperti sistem meritokrasi, yang baik mendapat posisi baik. Tapi, semuanya semu karena hanya bertumpu pada ukuran angka-angka yang tidak pernah dikalibrasi kredibilitasnya dalam kehidupan nyata.

5. Angka-angka itu lebih menunjukkan kapasitas daya tampung satuan-satuan pengetahuan yang diingat (memory of knowledge) ketimbang kapasitas belajar untuk mengonstruksi pengetahuan (construction of knowledge). Jelas, angka-angka itu dihasilkan dari penjumlahan jawaban yang benar dari soal-soal ujian tulis, bukan didapat dari asesmen terhadap portofolio karya.

6. Di tangan birokrasi korup dan penyelenggara pendidikan bermental buruh, maka kompetisi abu-abu yang menjadi ruh sistem persekolahan adalah lahan subur pembenihan korupsi sejak dini.

Yang seharusnya ada namun hilang dari dunia persekolahan:

1. Sekolah sebagai tempat membangun pribadi yang tangguh dan utuh untuk menjalani kehidupan. Tidak ada yang namanya pekerjaan enak. Kehidupan tidak pernah menjadi lebih mudah dan karena itu membutuhkan generasi yang memiliki daya juang tinggi, kreatif dan berjiwa pembelajar sampai akhir hayat.

2. Pendidikan usia dini adalah porsi utama Pendidikan Dasar. Pendidikan Dasar bertujuan membangun pondasi kehidupan. Pendidikan Dasar bukan untuk mencetak peserta-peserta ujian yang unggul yang begitu lulus tak punya inisiatif bahkan untuk diri sendiri, selain mengikuti jalur linear MENDAPAT PEKERJAAN.

3. Setiap sekolah, terlebih lagi sekolah yang dibiayai pemerintah, seharusnya adalah sekolah terbaik yang mampu disediakan negara untuk setiap anak Indonesia, termasuk anak-anak difabel dan berkebutuhan khusus.

4. Kompetisi bisa menjadi sumber motivasi. Tapi, ia tidak boleh menghilangkan kesempatan anak untuk mendapatkan kehadiran terbaik negara dalam pendidikan. Karena itu, sudah saatnya pemerintah mulai merancang road-map menuju sistem persekolahan komprehensif, dan pelan-pelan meninggalkan sistem persekolahan selektif. Dengan sistem komprehensif, pemerataan dan peningkatan mutu sekolah menjadi lebih fokus, dan diversifikasi konten pendidikan akan lebih mengakomodasi potensi-potensi spesifik lokal yang unik.

5. Kelak, jika anak-anak Indonesia tidak lagi berjibaku menghabiskan energi, waktu dan sumberdaya hanya untuk berkompetisi menjadi peserta-peserta ujian, mereka akan lebih punya banyak waktu untuk membangun kapasitas diri, daya juang, daya nalar, daya belajar dan kreativitas. Sehingga, mereka akan lulus sekolah dengan semangat bukan untuk MENDAPATKAN PEKERJAAN, tapi MAMPU BEKERJA DAN BERKARYA.

6. Generasi kreatif, berdaya juang tinggi, berdaya nalar kuat tak akan sempat berpikir untuk berlaku culas dan korup.
revolusi-pendidikan-dasar

Advertisements

5 thoughts on “Matriks Hubungan Korupsi dan Pendidikan

    1. ymusthofa Post author

      Terimakasih apresiasinya, Mas Adi Setiadi. Pekerjaan besar untuk membenahinya, memang. Tapi, itu bisa dilakukan segera tanpa harus menunggu keputusan politik semacam kurikulum yang selalu penuh dengan hawa kepentingan birokrasi korup dan transaksi-transaksi makelar. Kita mulai saja dari gerakan-gerakan kecil perbaikan seperti yang kami lakukan di Sekolah Batutis Al-Ilmi. Dan, tentu saja, yang paling penting dari lingkup terkecil: keluarga-keluarga.

      Like

    1. ymusthofa Post author

      Persekolahan kita begitu sibuk dan menghabiskan energi untuk memburu angka-angka. Anak-anak bukan belajar, tapi melatih keterampilan mengerjakan soal-soal ujian untuk meraih angka-angka.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s