Tahun Baru Setelah Overhaul Raga-Jiwa

[Transkrip Khutbah Jumat, 30 September 2016]

Hari ini tanggal 28 Dzulhijjah 1437 H. Artinya, hari Jumat yang penuh keberkahan ini adalah hari Jumat terakhir di tahun 1437 Hijriyah, tahun yang penghitungannya dimulai sejak hijrah Nabi Muhammad saw bersama para sahabatnya dari kota Makkah ke kota Madinah. Tinggal dua hari lagi, dan esoknya kita akan memasuki tahun baru 1438 Hijriyah.

Dalam rangka menyambut kedatangan tahun baru 1438 Hijriyah, perkenankan khatib yang dha’if ini mengajak jama’ah sekalian menyegarkan dan menguatkan kembali pembelajaran kita akan makna hijrah. Peristiwa hijrah itu begitu menentukan, peristiwa yang menjadi tonggak awal perjuangan Rasulullah Muhammad saw membangun dasar-dasar peradaban modern empat belas abad yang lalu.

Karena itu, sering kita dengarkan seruan-seruan setiap kali datang tahun baru Hijriyah, bahwa tahun baru Hijriyah adalah momentum kebangkitan kembali umat Islam sebagai umat terpilih, sesuai dengan seruan Allah swt dalam Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 104 dan 110. Merekalah orang-orang yang sukses. Merekalah orang-orang yang terpilih, yang dihadirkan (ukhrijat) bagi umat manusia untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Mengapa momentum hijrah itu penting, dan apa hubungannya dengan kebangkitan umat Islam? Kebangkitan umat Islam hanya bisa terjadi jika pribadi-pribadi umat Islam mampu menjadi pribadi-pribadi yang unggul. Artinya, membangun umat tidak-bisa tidak haruslah dimulai dari setiap diri, dimulai dari diri sendiri, membangun diri sendiri menjadi pribadi yang memiliki potensi unggul dan sukses, berpotensi menjadi ulaa-ika hum al-muflikhun.

Bagaimana caranya? Pertanyaan ini seharusnya sudah terjawab dengan sendirinya, jika kita mampu menyelami dan menghayati rangkaian proses yang baru kita lalui. Apa rangkaian proses itu? Ialah rangkaian proses penempaan selama beberapa bulan terakhir menjelang tahun baru. Proses itu dimulai dari bulan Ramadhan dengan ibadah puasa sebulan penuh, ditutup dengan ibadah zakat fitrah. Bagi yang mampu, penempaan dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, lalu puasa-puasa sunat lain di hari tasyri’ dan puasa ‘Arafah. Bagi yang mampu, penempaan dilanjutkan dengan ibadah haji dan ‘umrah di tanah haram. Bagi yang mampu pula, penempaan dilanjutkan dengan ibadah berqurban.

Semua proses itu tidak lain adalah untuk menempa setiap pribadi umat Islam agar memiliki potensi unggul, potensi sukses. Ibadah puasa seharusnya membuat raga dan jiwa kita menjadi semakin sehat dan kuat serta memiliki daya juang yang semakin tinggi, tidak mudah menyerah, tidak takut rintangan, tidak mudah patah semangat. Selain itu, bulan Ramadhan juga melatih kita memperbaiki ibadah shalat kita, menghayati makna ibadah shalat kita, agar prinsip-prinsipnya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Puasa dan shalat seharusnya semakin menjernihkan hati, akal budi, dan jiwa kita sehingga kita terus istiqamah di jalan penghambaan kepada Allah swt. Jalan syahadat, jalan yang hanya menuju satu tujuan dan kepentingan tunggal: la ilaha illa Allah. Hanya kepada Allah kita menuju. Kita dituntut menjadi pekerja keras, pejuang kehidupan, tapi pada saat yang sama tidak terbelenggu oleh materi yang kita peroleh. Zakat fitrah adalah simbol pembebasan jiwa kita dari materi.

Di satu sisi, kita diajak memetik pelajaran dari perjuangan keluarga Nabiyullah Ibrahim as, perjuangan-perjuangan dalam menghadapi hambatan, rintangan dan ujian yang mahaberat. Namun, pada saat yang sama, kita diajarkan untuk menyembelih kekuasaan materi atas jiwa kita. Itulah puncak kesuksesan manusia, manusia yang akan mampu mencapai derajat keselamatan dan kesentausaan dalam perjalanan pulang kepada Tuhannya. Manusia-manusia yang khusyu’, Alladzina yazhunnuuna annahum mulaaquu rabbihim wa annahum ilaihi raji’un.

Jika segenap proses penempaan itu berjalan sebagaimana mestinya, maka yang akan dihasilkan adalah umat pilihan, yang berisi pribadi-pribadi unggul. Pribadi pejuang kehidupan, pekerja keras-pekerja cerdas, tapi pada saat yang sama juga pribadi-pribadi yang tidak terbelenggu oleh kekuasaan materi. Maka yang terjadi adalah umat dengan pribadi-pribadi yang terus menebarkan manfaat.

Itulah makna momentum kebangkitan hijriyah, yang harus terus kita perbarui. Sebab, umat Islam yang memasuki tahun baru hijriyah seharusnya adalah umat yang baru melewati proses “turun mesin” (overhaul). Umat yang memiliki potensi sukses setelah melalui proses penempaan demi penempaan diri, sehingga menjadi umat umat unggul.

Semoga Allah swt terus menguatkan raga, hati dan jiwa kita agar menjadi hamba-hamba-Nya yang menghadirkan manfaat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw khairukum anfa’uhum linnas. Sebaik-baik golongan dari kalian adalah orang-orang yang paling bermanfaat bagi manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s