Kecerdasan Anak Usia Dini dan Kesabaran Guru

Sabar itu ibarat tulang rangka dari postur kemampuan seorang guru dalam pendidikan anak usia dini. Kalau posturnya berdiri, itu pertanda kesabaran ada. Berarti, guru memiliki kemampuan dan kemampuannya digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan anak usia dini.

Tentu saja, tujuan pendidikan anak usia dini mencakup aspek yang sangat luas, tidak hanya kognitif, tapi juga psikomotorik dan afektif. Tidak hanya lancar baca-tulis-hitung, tetapi kecerdasan majemuk. Dan, pendidikan anak usia dini adalah pembuatan pondasi dalam membangun kecerdasan anak secara utuh. Jika pondasinya tidak kokoh, apapun yang dibangun di atasnya mudah runtuh.

Kembali kepada masalah kesabaran guru. Kesabaran itu tidak habis, hanya terkadang tidak digunakan, sehingga kemampuan mendidik yang dimiliki seorang guru sedang terkulai. Mengapa tidak digunakan? Bisa jadi karena lupa, mungkin kalah oleh nafsu amarah. Tapi sebetulnya yang sering terjadi adalah keterbatasan pengetahuan tentang sesuatu yang sedang dihadapi.

Sebab, seperti yang akan saya ceritakan di bawah ini dari pengalaman saya mengobservasi guru Batutis Al-Ilmi, sabar, kesabaran atau sikap sabar ternyata terkait sangat erat dengan pengetahuan, dalam hal ini tentang seluk beluk anak usia dini. Guru Batutis bisa begitu sabar karena mereka memahami karakter anak usia dini.

Dengan kata lain, mereka sesungguhnya memahami tahapan-tahapan tumbuhnya kecerdasan anak usia dini, termasuk dalam hal kecerdasan perilaku. Sehingga, ketika menghadapi situasi  ekstrem sekalipun, misalnya anak tantrum, guru segera mencerna situasi itu dengan bekal pengetahuannya tentang tahap perkembangann di mana anak itu sedang berada.

Baiklah, saya coba mengajak pembaca untuk mencerna dulu hakikat sabar. Sabar tidak sama dengan pasrah. Sabar itu aktif, bergerak, gigih, pantang menyerah, waspada, teliti, kreatif, terus mencari, terus belajar. Maka dari itu, sebagai sandaran elementer dalam kehidupan, sabar memang tidak mudah, bahkan berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.
Siapakah orang-orang yang khusyu’? Mereka adalah orang yang tahu tujuan hidupnya, pulang kembali kepada Allah swt.
Jadi, jelas kan? Orang yang tidak mengetahui tujuannya sendiri, tidak mungkin mampu bertahan di jalur menuju tujuannya, apalagi diharapkan bertahan menghadapai tantangan. Karena sabar adalah ketangguhan dalam mencapai tujuan, dan sabar hanya tumbuh dan ditumbuhkan oleh tantangan, rintangan, halangan, bahkan cobaan.
Begitulah pelajaran yang saya petik dari para guru di Sekolah Batutis Al-Ilmi, Pekayon Bekasi, selama saya belajar tentang Metode Sentra. Mereka tidak panik, tidak grusa-grusu, tidak naik tensi emosi… bahkan saat menghadapi gejolak ekstrem murid berkebutuhan khusus, atau anak yang mengalami kelambatan dalam proses belajar. Mengapa? Karena para guru menyadari setiap anak punya laju proses yang berbeda-beda. Juga, setiap anak dibekali kemampuan untuk menjalani proses menuju kematangan diri agar mampu menjalani kehidupan yang bermakna.
Tidak ada anak bodoh. Tidak ada anak nakal. Yang ada adalah anak yang belum tahu. Tugas guru (dan terutama orangtua) adalah membantu anak agar berproses dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak bisa menjadi bisa. Tugasnya bukan memberi label dan menghakimi. Lebih dari itu, tugas utama para guru ternyata adalah BELAJAR! Guru adalah pembelajar utama.

#RevolusiPendidikanDasar #MetodeSentra

anak-batutis

Advertisements

3 thoughts on “Kecerdasan Anak Usia Dini dan Kesabaran Guru

  1. Setujuuiu…
    Tapi guru sekarang dibebani dengan tugas yang luar biasa…
    Sementara ortu, ongkang” kaki palagi ada bantuan KJP dll..
    Mngkin hanya 1 di antara seribu orang tua murid yg menemani anak”x belajar d rumah..
    Selebihx… Dibiarkan..
    G naik pun.. Mereka tetap senyum..
    Saya jd g habis pikir… Generasi kita mo jd apa.. Hikzzz…

    Like

    • Itu juga bagian dari probem pendidikan: membangun mindset pendidikan yang melibatkan sinergi dan kerja sama aktif trio sekolah-orangtua-lingkungan. Kita bisa mulai dari lingkup terkecil yang terjangkau.

      Liked by 1 person

  2. […] Sabar, sebagaimana definisi yang diajarkan dalam Al-Qur’an, melekat dalam pribadi orang-orang yang khusyu’. Siapa orang yang khusyu’? “(yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” [Q.S.2:46). Orang yang khusyu’ adalah orang yang sadar tujuan, visioner, berorientasi masa depan, mengetahui ke mana akan menuju dan tahu bagaimana mencapai tujuannya. […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s