Kyai Sabil (2)

Kyai Sabil datang lagi. Kali ini tak lama. Tak mau menunggu kubuatkan kopi. Hanya minta segelas air putih, yang ia teguk bergantian dengan mengunyah sepotong tape goreng sepanjang obrolan yang hanya sekitar 20 menit.

“Tadi nebeng mobil seorang kawan yang kebetulan mengarah kemari. Apa kabar, Mas Bayu?”

“Alhamdulillah, sehat, Kyai Sabil. Bersantai dululah, Kyai, kan sudah lama juga kita tak ngobrol.”

“Terimakasih. Tapi, saya ini juga sama seperti Mas Bayu. Kita tak punya kemewahan untuk berleha-leha.”

“Ha ha ha…. Jadi tersanjung dan tersindir, saya. Bukan kita, tapi Kyai Sabil. Sifat mbeling saya yang masih mbandel ya menumpuk alasan dan keluhan buat bermalas-malasan.”

“Halah. Saya tahu tidak seperti itu, Mas Bayu,” sergahnya. Wajahnya tetap segar, memancarkan kejernihan perasaannya. Gerak badannya gesit untuk ukuran pria seusianya.

“Serius  ini, Kyai Sabil. Melihat Kyai Sabil, saya seperti melihat susunan kata, istirahat itu beralih dari satu pekerjaan  ke pekerjaan lain.”

“Nah, pengarang fiksi sudah menemukan paragraf baru.”
“Eh, ampun. Nasib pengarang, sulit membuat orang percaya.”

“Tapi, kalimatmu tadi itu benar. Hidup seharusnya seperti itu.”

“Bukan kalimat saya, Kyai. Saya hanya membaca Kyai Sabil.”

“Saya tak peduli Mas Bayu baca dari buku apa. Tapi, itu relevan dengan garis kehidupan yang tidak linear dan tidak pernah pasti.” Kyai Sabil meneguk airnya.

“Maksudnya bagaimana Kyai?”

“Cara pandang awamnya begini. Kematian dan keselamatan bukan keputusan kita. Tak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menjamin keselamatan dirinya sendiri. Apalagi keselamatan orang lain.”

Mulai berat. Aku mulai terpaku, bersusah payah menyesap makna kalimat-kalimatnya.

“Kalau ada orang merasa mampu seperti itu, itu namanya kesombongan. Saat itu, ia bukan sedang digoda oleh iblis. Ia sedang mengundang iblis bekerja sama dengannya. Pada saat yang sama, pengetahuan, kecredikan, kemampuan dan keterampilannya berkilauan, siap full-speed melembangkan jalan nafsu. Jadi, jangan kau ajari orang seperti itu, karena yang sedang tertidur adalah kebijaksanaannya.”

“Kebijaksanaan tertidur?”Aku kepayahan, tapi kalimat-kalimatnya menyengat.

“Iya, kebijaksanaan adalah kesadaran tentang keterbatasan-keterbatasan, tetang ketidak-pastian, tentang jalan yang tidak linear, tentang jarak pandang yang terbatas. Padahal, hidup itu tidak hanya titik-titik koordinat pada bidang datar. Titik-titik itu sesungguhnya ada dalam ruang dengan banyak dimensi tak berhingga.”

“Bukankah kita tidak dibebani untuk mengenali semua dimensi itu, Kyai?”

“Betul. Kita tidak dibebani. Karena itulah kebijaksanaan yang tadi itu menjadi penting. Selebihnya adalah belajar, ikhtiar, belajar lagi, ikhtiar lebih baik lagi, belajar lagi…. terus begitu.”

“Ya, ya.”
“Nah, kita patut bersyukur bahwa kita dibekali kemampuan untuk menerima dan menyampaikan nasihat. Saling memberi nasihat. Dan, saling mendoakan.Tapi, bukan kemampuan akurat mengukur, sehingga bukan tugas kita untuk memaksa. OK, Mas Bayu, saya mohon pamit. Terimakasih suguhannya.”

“Terimakasih, Kyai Sabil. Penuh, mudah-mudahan tidak tumpah dari kalbu saya.”

“Amin ya Rabbal ‘alamin. Assalamu’alaikum warahmatulllah wabarakatuh.”

“Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s