Clicktivist dan Tahap Sensorimotor Bermain Balok

Salah satu tugas media massa adalah membawakan suara kepentingan publik, betapapun suara itu berasal dari kelompok yang kurang diperhitungkan (representing the less represented). Di masa lalu, hal tersebut harus berhadapan dengan bermacam-macam keterbatasan dan pembatasan.

Misalnya, keterbatasan halaman cetak di media cetak; keterbatasan slot berita di media elektronik audio maupun audiovisual; visi dan kebijakan redaksional media; juga, tentu saja, sensor kekuasaan politik. Akibatnya, representing the less represented adalah perjuangan yang cukup berat.

Kini, media sosial mendesak peran media massa, dan dalam banyak kasus, telah membunuh outlet media massa. Keterbatasan dan pembatasan itu nyaris lenyap tak bersisa. Siapapun bisa merepresentasi diri. Batasnya hanya satu: daya tembus audiens.

Revolusi teknologi informasi sudah menyediakan kemewahan itu. Namun, kemewahan tak selalu sama dengan manfaat. Malah, sering sebaliknya, kemewahan membawa mudharat. Atau, manfaat kemewahan teknologi yang bisa dipetik hanya pinggiran, alias kulitnya saja.

Salah satu faktornya adalah, keleluasaan representasi tak diimbangi dengan gairah belajar. Daya tembus audiens dicapai, tapi tidak bertumpu pada kredibilitas dan integritas. Bahkan, sudah banyak contoh, daya tembus menjadi bencana karena pelakunya terperosok ke dalam kasus pidana. Tapi, warga media sosial tetap tak jera berkubang dalam arena permainan informasi, dan dengan sukarela mengambil peran sekadar menjadi clicktivist.

Clicktivist itu seperti anak usia dini yang baru mencapai tahap bermain sensorimotor. Ketika disediakan untuknya alat main berupa balok unit, misalnya, ia belum bisa diberitahu fungsi balok untuk membangun. Karenanya, ia belum bisa diharapkan menyusun balok-balok menjadi bangunan untuk merepresentasi ide dan imajinasinya. Apalagi diharapkan mencapai tahap-tahap advance bermain balok. Ia mungkin baru bisa menikmati sensasi bunyi yang ditimbulkan dengan memukulkan balok dengan lantai atau balok dengan balok (sensasi click dan like, tanpa tahu akibat yang ditimbulkannya).

Revolusi teknologi informasi sudah terlanjur menghadirkan abad telepon pintar. Tapi, kekosongan tahap perkembangan, khususnya tahap bermain, membawa serta akibat yang tidak hanya “tidak pintar”, tapi juga risiko yang sangat merugikan. Biarlah generasi “kurang bermain” sebagaimana adanya seperti sekarang. Kita mulai saja dari anak usia dini, agar tiga puluh tahun lagi kita punya generasi yang terampil menjalankan peran kehidupan yang bermakna.

simulasi-bermain-balok-batutis

[Simulasi Bermain Balok dalam Pelatihan Metode Sentra di Sekolah Batutis Al-Ilmi, Bekasi]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s