Pada setiap momen yang membahagiakan, lidah hampir-hampir bergerak otomatis untuk melafalkan kalimat pujian kepada Allah swt, Dzat Yang Maha Berkehendak atas segala yang terjadi pada setiap makhluk ciptaan-Nya, dan karena itu yang berhak atas segala pujian. Kalimat hamdalah dilatihkan setiap hari, pagi-siang-malam.

Namun, ternyata menggenapkan sekujur raga, hati dan akal pikiran untuk total selaras dengan ucapan lidah tidaklah mudah. Lidah melafalkan pujian kepada Allah swt, tapi hati kerap kesulitan menyingkirkan rasa diri pantas mencapai kebahagiaan. Akal sempoyongan melawan rasa mampu meraih kebahagiaan. Dada berdegup dipacu rasa diri hebat. Hidung mengembang ditiup rasa “inilah aku!” Telinga pun kepanasan bila diterpa suara yang menyepelekan. Dan semua itu jelas tidak sejalan dengan ucapan pujian lidah yang otomatis.

Maka, benarlah kesenangan, kebahagiaan, keberhasilan sejatinya adalah ujian yang tak kalah beratnya dengan kesedihan, kemalangan dan penderitaan. Ujian yang mudah menggelincirkan manusia dari kesadaran atas apa yang dengan lancar dapat diucapkan oleh lidah. Ujian yang rawan menjerumuskan manusia pada jerat belenggu kesombongan.

Sungguh mulialah hamba-hamba Allah yang mampu mencapai puncak kebahagiaan bersyukur dengan membebaskan diri dari belenggu kesombongan. Merekalah orang-orang yang menemukan kebahagiaan sejati. Ya Allah sampaikanlah usiaku ke bulan Ramadhan. Bimbinglah aku menapak jejak hamba-hambaMu yang berhasil, bukan jalan sesat yang Engkau murkai. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Advertisements