Blog pribadi ini sudah empat tahunan “melayani” saya dalam mengeluarkan berbagai macam uneg-uneg, termasuk dalam isu pendidikan. Saya memang sesekali menulis opini tentang pendidikan di media massa seperti Koran Temppo, The Jakarta Post dan website opini Geotimes.com. Namun, tentu saja, tak semua hal yang terbersit dalam pikiran bisa terakomodasi dalam artikel opini semacam itu. Apalagi, terutama untuk media cetak, ruangnya pasti terbatas. Dalam hal seperti itu, biasanya limpahan ide saya coba tuangkan dalam blog ini.

Selain itu, dengan menulis di blog pribadi, bahasa yang saya gunakan bisa sangat informal, yang tidak mungkin sesuai dengan media massa formal. Juga, blog pribadi ini saya gunakan untuk menulis hal-hal lain di luar isu pendidikan, seperti isu politik kontemporer, sesekali coretan-coretan ekspresi dalam bentuk sajak, dan apa saja yang menurut perasaan saya perlu ditumpahkan menjadi tulisan.

Nah, untuk isu pendidikan, ada kategori yang sangat saya sukai yaitu pendidikan anak usia dini. Sangat saya sukai sehingga buku pertama saya di bidang pendidikan adalah tentang pendidikan anak usia dini, yakni tentang pentingnya membangun kemampuan berbahasa anak usia dini sebagai bekal dasar kehidupan.

Kategori pendidikan anak usia dini memiliki cakupan yang sangat luas dan rasa-rasanya tidak mungkin bisa sering-sering dimuat di media massa. Namun, kalau ada yang dinamakan revolusi pendidikan, maka menurut hemat saya, pendidikan anak usia dini-lah domainnya. Karena itu, saya merasa terus terdorong untuk menulis tentang pendidikan anak usia dini.

Maka, saya pun memisahkan kategori pendidikan anak usia dini di blog lain. Ternyata saya sudah pernah membuat blog tentang pendidikan anak usia dini sekitar dua tahun lalu, tapi belum pernah saya isi artikel. Ya sudah, akhirnya sejak beberapa hari lalu, saya mulai aktifkan blog tersebut. Namanya, Peduli Pendidikan Anak Usia dini. Di blog ini, saya berusaha sedapat mungkin menyertakan infografis pada setiap tulisan. Mengapa? Karena kalau sudah mulai menulis, mentang-mentang tidak ada batasan space untuk tulisan di blog, saya suka “terbawa arus” sampai tulisan menjadi sangat panjang. Maka, supaya halamannya tidak terlihat kriting dengan huruf-huruf saja (wordy), infografis sepertinya bisa menjadi semacam kompromi. Juga, mudah-mudahan, dengan infografis, ide yang saya tuangkan dalam tulisan menjadi lebih mudah dicerna

Selain isu pendidikan, saya juga berusaha menuangkan pengalaman saya dalam dunia tulis-menulis dengan membuat blog baru, Mitra Kreativa. Blog ini sebetulnya saya ingin lebih informal dan lebih santai, tapi ternyata saya masih perlu sering latihan agar tulisan-tulisan saya menjadi lebih segar, tidak bikin pembacanya berkerut kening.

Blog ini juga saya coba jadikan sebagai sarana menuangkan hasrat terpendam untuk menghasilkan karya fiksi. Sewaktu SMA dan kuliah dulu memang saya pernah mencoba menulis cerita pendek, dan sudah coba mengirimkannya ke media massa. Tapi, belum pernah ada yang “lulus”. Dan sejak bekerja menjadi wartawan tahun 1993, hasrat menulis karya fiksi semakin terpendam. Meskipun begitu, saya tetap suka membaca karya fiksi, baik terjemahan maupun lokal, dan beberapa kali menerjemahkan novel, yakni Mr. China (Tim Clissold), Shashenka (Simon Sebag Montefiore), Tiga Dara Berhati Baja (Ruthanne Lum McCunnAnn), dan Kota Kaum Cadar (Zoe Ferraris). Kecuali Tiga Dara Berhati Baja, novel-novel itu masih bisa dipesan lewat saya.

Satu lagi, dalam menuruti hobi saya yang berurusan dengan Bahasa Inggris (ternyata saya dulu pernah kuliah di jurusan Bahasa Inggris), terkadang muncul uneg-uneg tentang belajar Bahasa Inggris. Dari pada uneg-unegnya tersimpan dalam hati, ya sudah saya pun membuat blog lain. Namanya English Reading Enthusiasts. Kenapa reading? Sebab, (ini salah satu uneg-uneg saya), sebetulnya banyak membaca buku atau artikel berbahasa Inggris adalah jalan tol untuk memperbaiki kemampuan berbahasa Inggris.


Dari banyak membaca, kita mendapatkan contoh bahasa Inggris dalam pemakaian “premium”. Pada saat yang sama, kita dapat memperkuat citarasa tatabahasa kita dalam Bahasa Inggris. Juga, dengan banyak membaca “bahasa Inggris asli”, dan bukan bahasa Indonesia yang di-Inggriskan seperti yang terkadang muncul dalam matapelajaran Bahasa Inggris, kita pun berpeluang ketularan untuk berbahasa Inggris asli.

Oh, ya, mohon dimaklumi, tampilan semua blog baru saya masih berantakan bin awut-awutan. Soalnya, saya hanya pakai begitu saja theme atau template gratisan yang sepertinya bagus, tapi saya belum punya ilmunya untuk mengutak-atik sesuai keinginan. Jadi, untuk sementara mohon dimaklumi dulu, kapan-kapan kalau sudah ada yang mengajari saya ilmu kanuragan blog, saya akan coba perbaiki tampilannya.

Mudah-mudahan blog-blog baru saya bermanfaat. Blog yang ini akan tetap saya gunakan untuk menulis hal-hal yang bersifat renungan pribadi (tadarus) dan isu lain-lain.

Salam

Advertisements