Gambar di atas adalah foto cover buku How to Really Love Your Child, karya D. Ross Campbell, MD. Tapi coba perhatikan, di samping kiri kanan gambar buku itu ada kursor. Ya kursor itu adalah tombol untuk membalik halaman demi halaman.

Saya agak bingung mau menceritakan yang mana terlebih dahulu: isi bukunya atau betapa nikmatnya cara saya membaca berkat teknologi abad digital. OK, karena isi buku yang sudah ditulis terlebih dulu di paragraf ini, ya sudah saya mulai dari tentang isi bukunya.

Buku ini adalah buku lama, bahkan sangat lama, diterbitkan pertama kali saat saya baru kelas III SD, tahun 1977. Tapi, buku ini diterbitkan lagi pada tahun 2003 dan cover yang terlihat dalam foto ini adalah edisi 2003. Buku ini berisi pelajaran-pelajaran kehidupan yang dihimpun dari pengalaman Campbell selama praktik menjadi psikiater.

Buku ini memang ditulis dari latar belakang kehidupan masyarakat Amerika Serikat di era 70-an. Tapi, saya merasa seperti membaca situasi yang sangat dekat dengan masa ketika saya sudah menjadi seorang ayah. Ya, masa kini, abad teknologi informasi digital saat ini!

Buku ini diawali dengan kisah sepasang suami isteri yang sangat menyayangi, sangat mencintai putranya, Tom. Menurut Campbell, dari cara bicara dan bahasa tubuh pasangan itu, kedua orangtua Tom adalah orang yang penuh cinta (juga pemeluk agama yang taat). Tapi, mereka sampai di ruang konsultasi Campbell karena tak berdaya menghadapi sebuah masalah yang musykil, aneh dan tak terbayangkan bagi mereka.

Mengapa Tom si anak manis, penurut, sopan dan dilimpahi cinta orangtua tiba-tiba tumbuh menjadi remaja lepas kendali. Ia runtang-runtung dengan geng berandalan, ke sana kemari bikin onar. Dan, dalam pengakuannya kepada Campbell, Tom ternyata merasa tidak dicintai kedua orangtuanya!

Uraian-uraian saintifik Campbell dalam buku kecil ini (hanya 181 halaman dengan ukuran lebih kecil dari A5) sangat istimewa buat saya, sebagai bahan tulisan-tulisan di blog Peduli Pendidikan Usia Dini. Keistimewaan utamanya karena buku ini membuat saya semakin terperangah betapa banyak lagi buku yang harus saya baca. Keistimewaan kedua (ini subjektif) gaya bahasa popularnya memikat selera saya.

Sementara itu yang bisa saya ceritakan tentang isi bukunya.

Tapi, ada satu hal lagi menyenangkan (seperti saya singgung di bagian awal, buku ini bisa saya baca dengan produk teknologi digital. Sebuah app yang dapat diunduh gratis bisa menyajikan sebuah buku PDF laksana buku nyata dengan sensasi bunyi “kresek” seperti menyibak halaman demi halaman kertas.

Mungkin suatu saat nanti saya akan menulis buku untuk diunduh dan dinikmati gratis pembaca dengan cara seperti ini. Tapi, mmmm…. harus nunggu blog saya banyak tamu, kayaknya. Saya tanyakan dulu kepada para tamu, apakah buku yang ingin saya tulis penting untuk ditulis atau tidak ada gunanya. Mudah-mudahan terwujud.

Advertisements