Lampu Kenangan

Buritan kapal lepas dari sandaran di pelabuhan. Perlahan aku menjauh dibawa umurku, meninggalkanmu dengan perasaan berdebar-debar. Dada bergemuruh rapuh seperti kumpulan buih-buih di bekas perlintasan.

Cukupkah bekal yang kubawa darimu? Bahkan, aku harus bertanya adakah sesungguhnya yang dapat kubawa darimu? Di depan, setiap hari adalah satuan samudera dengan kedalaman yang baru, gelombang yang baru, dan kehidupan yang baru.

Bagaimana mungkin aku dapat nyenyak dalam ketidakpastian, kecuali aku tertidur? Tidur, tidur, tidur, lupa…. bahwa aku pernah berkata merindukanmu. Rindu seperti kelap-kelip lampu kenangan yang timbul tenggelam, berharap nanti berjumpa lagi. Membasuh daki, melebur dosa, menyeka nafsu… terus dan selalu begitu.

Ya Ramadhan, aku berlayar hanya dengan kelap-kelip lampu kenangan yang timbul tenggelam, dan dengan hati yang rawan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s