Value Kerupuk dan Latah Hoax

Waktu saya masih bekerja kantoran dulu, banyak teman sekantor penggemar kerupuk. Maka terjadilah kesepakatan para penggemar kerupuk untuk “berjualan” bersama. Maksudnya, pedagang kerupuk yang biasa nitip dagangan di warung makan diminta menaruh sekaleng kerupuk di kantor. Pedagang memberi harga diskon reseller ke paguyuban dadakan pecinta kerupuk, tapi konsumen end-user membeli dengan harga warung, dengan cara mengambil kerupuk sendiri, menaruh uang di kotak, dan (jika perlu) mengambil kembalian sendiri.

Biasanya sekaleng kerupuk habis tak sampai sepekan. Itu berbeda dengan di warung-warung. Sering saat totalan, tersisa sejumlah unit kerupuk dalam kondisi empuk. Dan, si pedagang mengambilnya sebagai retur yang tidak perlu dibayar oleh pemilik warung.

Meskipun “hanya” menyangkut kerupuk, baik pedagang maupun pemilik warung sama-sama memiliki value yang dijaga sepenuh hati karena menyangkut kredibilitas dan trust. Saat ada pembeli yang mau mengambil kerupuk melempem, pedagang mengingatkan, “Jangan, itu sudah melempem.” Begitu pula pedagang kerupuk, tak berusaha, misalnya, mengemas kembali kerupuk yang sudah melempem dalam plastik untuk dijual lagi. Kedua pihak memegang prinsip dasar bahwa kerupuk melempem bukan untuk dijual.

Seandainya informasi bisa diumpamakan sebagai komoditas seperti kerupuk, maka dewasa ini kita menyaksikan betapa sekelompok pedagang sedang memainkan peran nista yang begitu rendah. Betapa orang-orang yang telah menyandang kehormatan sosial dan ekonomi begitu mulia bisa terjerumus dalam perilaku hina dina yang tak masuk akal. Lalu, para “pemilik warung” yang juga kalangan berpendidikan latah secara massal menjadi dealer dan agen komoditas melempem dengan berbagai jenis dan bentuk kemasan.

Bayangkan makanan kedaluarsa sudah berjamur dan berbahaya. Berkat kecanggihan teknologi, makanan itu bisa dipermak, sehingga tampilan dan rasanya menjadi seperti makanan baru. Setelah dikemas ulang, makanan itu dijual.  Laris manis tanjung kimpul. Banyak agen menangguk untung, banyak konsumen bergembira ria menikmati racun yang segera terserap dalam tubuh mereka.

Dalam hal racun hoax, tragisnya, banyak pengecer dan konsumen justru menganggapnya penting disebarkan dan dikonsumsi “untuk waspada”. Apakah karena informasi itu bukan benda konkret, sehingga tidak mudah dinilai dan diverifikasi?

Jikapun alibi ini harus diterima, maka ada persoalan serius dalam masyarakat kita. Persoalan elementer. Persoalan kemampuan identifikasi, klasifikasi, dan verifikasi. Kemampuan-kemampuan itu membutuhkan proses panjang penanaman, penumbuhan, perawatan dan penguatan.

KEMAMPUAN BERPIKIR ABSTRAK. Proses sejak usia dini

Lagi-lagi proses itu harus bermula sejak usia dini, dari tahapan konkret sampai ke tahapan abstrak. Semestinya, jika merujuk ke teori perkembangan kognitif Piaget, kemampuan dasar berpikir mengenai konsep abstrak mulai berkembang pada tahap operasional formal, sekitar awal usia sekolah menengah sampai usia dewasa. Namun, jika pondasi tahap konkret tidak terbangun secara kokoh, maka bata-bata bangunan mental di atasnya pun mudah runtuh.

Jelas bahwa gejala terjerumusnya banyak kaum berpendidikan tinggi dalam perilaku penyebaran hoax secara massal adalah petunjuk lemahnya bangunan dasar kemampuan berpikir. Itu berarti ada masalah serius dalam pendidikan dasar kita. Pendidikan dasar tidak hanya dalam arti Sekolah Dasar, tapi lebih jauh, pendidikan prasekolah.

Percuma, energi terkuras habis untuk memastikan tercapainya prosentase angka tinggi kelulusan Sekolah Dasar sampai perguruan tinggi, jika yang didapat hanyalah generasi terampil menjawab soal-soal ujian. Percuma, karena ternyata kemampuan berpikir dasar terlupakan. Dengan itu, tak dibutuhkan kecanggihan agen dinas intelijen asing dengan perangkat perang asimetrisnya yang ber-hitech untuk meruntuhkan dan menenggelamkan kita sebagai bangsa. Mereka cukup ngopi-ngopi di kafe dan menyaksikan dari jauh.

Bencana hoax kebetulan melanda saat meletup ontran-ontran permusuhan politik dewasa ini. Praktik-prakti politik tak beretika mengkapitalisasi kedahysatan disinformasi yang ditopang oleh kehebatan teknologi. Tapi, ontran-ontran dan kemajuan teknologi hanyalah pemicu, karena sumber utamanya sesungguhnya adalah kondisi masyarakat rendah literasi.

Rendah literasi bukan semata-mata persoalan rendah minat baca. Lebih dari itu, rendah listerasi mencakup kegagalan membangun dasar-dasar daya nalar. Maka, siapapun yang menang, tak akan mencapai kemenangan sejati jika abai terhadap kenyataan betapa rapuhnya pondasi itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s