Warteg, Lesson Learned!

Apa yang Anda pikirkan jika diminta menulis tentang Warung Tegal atau Warteg? Pasti rentang temanya sangat luas. Sosiolog, ekonom, pakar kuliner, aktivis LSM, mahasiswa, pegawai negeri, karyawan perusahaan swasta, buruh pabrik dan lain-lain tentu punya sudut pandang yang berbeda-beda. Bahkan, mahasiswa yang tinggal di tempat kos yang sama pasti punya pengalaman berbeda tentang Warteg, dan karenanya sudut pandangnya pun berbeda. Entah dari sisi keterjangkauan harga, keragaman menunya atau kemudahan ngutangnya.

Sudah barang tentu pula ada unsur-unsur yang bisa disepakati banyak orang tentang Warteg. Misalnya, Warteg adalah satu jenis usaha kuliner. Sebagai usaha, maka keberlangsungannya antara lain ditentukan oleh publik konsumen. Semua proses dari rencana belanja, pengoalah bahan, penyajian menu di “layar sentuh” dinilai oleh konsumen dalam bentuk produk jadi yang terhidang di piring saji.

Menu “Layar Sentuh” Warteg (Foto: detiFood). Daya tahan, daya juang, fokus

Satu konsumen mungkin akan terus datang sebagai pelanggan tetap, mungkin ada konsumen yang tidak tertarik lagi. Tapi, selama usaha Warteg itu berjalan, berarti ada value yang bertahan padanya, entah besar entah kecil. Suatu hari, saya pernah melintas di depan Warteg yang bertahan sejak saya masih kuliah dulu. Dan, ramai. Saya tidak pernah meneliti Warteg secara khusus, apalagi Warteg tertentu. Namun, selain sesekali masih suka menikmati makan siang di Warteg, saya menemukan pelajaran kehidupan dari jenis usaha kuliner kelas masyarakat biasa itu.

Apa itu? Daya tahan, daya juang dan fokus. Warteg yang memiliki daya tahan seperti itu tentu tak luput dari bermacam-macam problem, tekanan, atau bahkan badai yang serius. Entah soal permodalan, persaingan, harga bahan baku, tingkah karyawan, atau bahkan isu miring. Tapi, daya tahan, daya juang dan fokus membuatnya tetap eksis.

Seperti apa daya tahan, daya juang dan fokus yang membuat Warteg itu bertahan? Saya tidak tahu. Tapi, itulah hakikat pelajaran kehidupan yang saya maksud, dan bila saya ingin bisa seperti itu, saya perlu mencari pada diri sendiri. Belajar. Belajar memahami diri, belajar mengenali realitas sekeliling, belajar bersikap, belajar memperbaiki diri dan seterusnya. Tidak selalu mudah, tapi itulah yang diperlukan untuk survive.

Eksistensi diri di tengah realitas kehidupan ibarat keberadaan Warteg yang selalu harus siap dinilai oleh publik konsumen. Karya yang kita buat, barang yang kita perniagakan, karier yang kita bangun, bahkan status yang kita tulis di Facebook adalah subjek yang tersaji di atas meja pelanggan dan akan berpengaruh pada eksistensi kita. Terkadang situasinya menyenangkan, sebagaimana sukacita pemilik Warteg yang ramai pengunjung. Tapi, badai bisa datang tanpa pengumuman, dan tidak mudah menghadapinya, tentu saja.

Pernah, sebagai penerjemah buku, saya diajak penerbit untuk acara bincang-pendengar di sebuah radio untuk membahas buku baru yang saya terjemahkan. Satu dua penanya menanyakan hal-hal yang standar tentang isi buku. Beres. Tiba-tiba ada penanya yang mempertanyakan kualitas terjemahan. Dalam sepersekian detik, dada saya bergemuruh. Untungnya, yang diminta menjawab duluan wakil penerbit, yakni sang editor kepala. Sambil mendengarkan penjelasan editor, saya berpikir untuk menyusun kalimat jawaban yang pas.
Tiba giliran saya menjawab, dada saya sudah tenang. Mula-mula saya katakan, “Saya tidak dalam posisi menjawab pertanyaan itu.” Lalu saya jelaskan bahwa saya bekerja sesuai dengan syarat-syarat, kriteria, dan ketentuan yang sudah dibuat editor penerbit, dan terjemahannya sudah diterbitkan. Jadi, silakan pembaca yang menilai. Plong.

Pengalaman itu membuat saya bisa lebih santai, misalnya, ketika ada orang-orang dalam forum membahas, mengkritik dan bahkan menjelek-jelekkan karya terjemahan saya. Selain karena pengalaman saya sebagai penerjemah juga belum seberapa, saya anggap pembaca juga sama seperti pelanggan Warteg. Mungkin saja ada pelanggan yang terbiasa makan karedok atau gado-gado, sehingga menu urap kurang disukai.

Jadi, apa pelajaran dari Warteg? Pelajaran dari Warteg adalah saya perlu belajar bagaimana Warteg membangun daya tahan, daya juang dan fokus. Apa hubungannya, jauh amat, Warteg dengan buku terjemahan? Hubungannya, sebagai penerjemah buku, saya menyukai keragaman menu Warteg.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s