Catatan dari Membaca Buku Riley

Pagi ini, sambil minum kopi dingin yang masih tersisa seperempat gelas, mata saya terantuk ke satu paragraf di bab 3 buku Attachment Theory yang covernya saya unggah di Facebook dua hari lalu. Paragraf itu bermula tepat di bawah subjudul “Teachers have feelings too”. Guru juga manusia :D.

Teaching is traditionally assumed to be rational and logical. In this conception teachers deal with the cognitive aspects of development and deliver curriculum in the most effi cacious manner. Challenging this assumption can arouse strong reactions, particularly if emotions are perceived to be the opposite of reasoned responding. However, it is time for educationalists to incorporate current conceptualising
of brain functioning, which now places emotions at the centre of all thought, into the educational discourse and practice.

[Secara tradisional, mengajar diasumsikan sebagai sesuatu yang bersifat rasional dan logis. Dalam pandangan ini, urusan guru adalah aspek-aspek perkembangan kognisi dan bagaimana menyajikan materi kurikulum dengan cara yang paling sangkil-mangkus. Menentang asumsi ini bisa dibuli banyak orang, terutama jika urusan emosi dipersepsi bertentangan dengan urusan nalar. Namun, kinilah saatnya kalangan dunia pendidikan memasukkan konspektualisasi fungsi otak, yang kini justru menempatkan emosi di pusat semua pikiran, ke dalam diskursus dan praktik pendidikan.]

Saya coba menarik insight dari penegasan Philip Riley pada sub-bab tersebut.

  • Penegasan Riley bertumpu pada rekomendasi riset-riset neurosains mutakhir.
  • Fungsi kerja otak mencakup berpikir logis dan kendali emosional (jadi, perlu pelurusan gestur tangan yang elus-elus dada saat berkata, “Tega banget, kamu menyakiti perasaanku”. Mestinya, tangan memegang bagian belakang bawah kepala. :D)
  • Dalam hal fungsi otak itu, ada dua potensi yang saling berlawanan yang menyertai situasi interaksi guru-murid, yakni transference dan contratransference. Di sinilah penentu berhasil tidaknya proses pembelajaran dalam kelas.

Terus terang, sebagai alumni sekolah keguruan zaman lampau, saya tak mendapatkan materi seperti ini semasa kuliah. Saya tak tahu sekolah keguruan zaman now. Tapi, yang agak “menghibur” ketidaktahuan saya, Riley mengungkapkan di buku tahun 2011 itu bahwa di negara-negara maju sana pun porsi emosional transference dan contratransference belum menjadi bagian signifikan dari strategi persekolahan. Mengapa? Karena orientasi pendidikan didominasi oleh aspek perkembangan kognisi (cognitive heavy).

Sebaliknya, dari pengalaman magang setahun menjadi guru SD Batutis (2011-2012), saya malah merasakan aspek emosional mendapat porsi besar dalam keseharian kerja guru Metode Sentra. Setiap hari, guru Sekolah Batutis Al-Ilmi, dan sekolah-sekolah yang sudah menerapkan Metode Sentra membawa blanko observasi yang sarat dengan aspek kemajuan psikologis. Bukan sekadar mencontreng indikator-indikator, tapi menerasikan kemajuan setiap anak.

Apakah Metode Sentra memang “memuat” Attachment Theory? Saya belum punya bahan untuk menjawab pertanyaan ini. Selain masih banyak yang harus saya pelajari dari Metode Sentra, buku Riley ini pun belum seperempat bagian saya baca. Tapi, ini pertanyaan menarik dan bisa masuk dalam daftar “book dream” saya. Semoga ada kemudahan untuk riset literatur dan riset lapangan. Allaah al-Musta’aan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s