Absurditas Standar Pendidikan

Pendidikan itu harus berstandar. Sekolah standar. Guru standar. Pelajaran standar. Ukuran prestasi standar. Kalau kamu mampu memenuhi standar, kamu akan dapat ijazah standar. Itu kebutuhan hidup modern.

Seragam? Ya, itu demi memudahkan negara mengukur dengan cepat, jelas dan tegas apakah ia berprestasi menyelenggarakan pendidikan yang standar. Dengan begitu, negara bisa seketika berbangga telah berhasil menyelenggarakan pendidikan. Tak perlu menunggu dua puluh atau tiga puluh tahun lagi untuk melihat hasilnya. Kalau tidak ada angka-angka di ijazah itu, negara tak tahu lagi alternatif lain untuk mengukurnya. Itu sudah cara yang paling mudah, efektif dan massal-nasional. Kalau mengevaluasi kualitas guru, mutu proses pembelajaran, mutu manajemen sekolah, mutu buku pelajaran, mutu kepala dinas, mutu kurikulum, itu semua butuh waktu dan biaya.

Nah, setelah lulus, carilah sendiri nasibmu di negeri yang ragam kekayaan alamnya tak tertandingi di dunia ini. Sebab, negara manapun di dunia ini tak pernah mampu menghapus kesenjangan antara jumlah lowongan pekerjaan dan jumlah lulusan sekolah. Mengurusi ini saja sudah berat, jadi jangan suruh sekolah negara mengurusi daya kreativitas di bidang yang bermacam-macam itu. Mau wirausaha agrobisnis, kelautan, craft, musik, senirupa, olahraga…. itu pikirkan nanti saja kalau sudah lulus sekolah.

Yang penting, negara sudah berusaha mati-matian mencocokkan sekolah dengan kebutuhan lowongan pekerjaan. Bahkan, sampai standar internasional, lho. Kalau tidak cocok, ya maklumlah, perkembangan dunia ini kan amat sangat cepat. Pokoknya, kamu harus mencapai standar dulu. Wajib, Titik! Jangan neko-neko dengan imajinasimu dan impianmu sendiri. Kamu bisa tertinggal dan kalah bersaing dengan teman-temanmu yang mencapai standar.

Sudah, ya. Jangan lupa ikut lima kali try out sebelum ikut Ujian Nasional yang sakti tak mempan moratorium, biar nilaimu bagus, berstandar bagus, mendapat kesempatan bagus meraih lowongan pekerjaan.

empty-your-pocket

Advertisements