Author Archives: ymusthofa

About ymusthofa

I finally chose to be a self-employed writer, after having worked for more than 15 years for different media organizations as a journalist. Now, I enjoy writing opinions on educational issues, several of which have been printed in national newspapers. I translate books, write books in the name of both individual and institutions, but my own first book is yet to be written.

hujan november (3)

akhir november turun di musim hujan
kubiarkan sedari pagi tubuhku meresap
ke dalam dingin yang tanpa selimut
mungkin karena angin sudah bergegas
melupakan embun
menghalau rindu
menghadang matahari

ia menyeringai
dan bertanya,
“apakah hatimu pernah membara?”
“seperti janji?”
“atau seperti puisi yang membakar api?”

semakin erat kupeluk dingin yang menggigil

ia menyeringai
dan berkata,
“lupakan saja janjimu pada hujan!”
“seperti november yang hanya datang menyapa”
“seperti kota-kota yang terus berkelana”
“seperti mimpi…. ya, seperti mimpi yang selalu lupa….”

tiba-tiba dingin menjelma bara
menyeruak ke angkasa

“diaaaam!!!”
hening

bogor, 30-11-2017

Advertisements

Manusia Pulang ke Masa Depan

[PENGANTAR: Tulisan ini adalah pembuka topik Teknologi yang saya saya tambahkan di blog. Di kala kita asyik menggunakan hasil-hasil kemajuan teknologi mutakhir, jarum jam teknologi tak berhenti, terus berdetik, menyiapkan dentuman-dentuman kejutan yang tak terbayangkan kapan, bagaimana, dan apa dampaknya bagi kehidupan manusia.]

 

Ada dua buku yang saya baca di tahun ini, yang membuat saya seakan-akan blingsatan sebagai manusia bukan produk zaman now, melainkan produk zaman semonow. Karena kebetulan pekerjaan saja, saya mendapat nikmat kesempatan menerjemahkan kedua buku itu, dan karenanya bisa baca tanpa harus membelinya. Kedua buku itu adalah How To Build a Billion Dollar App dan Sapiens: A Brief History of Humankind.

Buku yang pertama ditulis George Berkowski, seorang pelaku bisnis teknologi informasi milenial yang berbagi jeroan pengalaman suksesnya menjadi miliarder. Buku kedua ditulis Yuval Noah Harari, seorang sejarawan Israel yang lincah bertutur tentang sejarah manusia dari zaman spesies makhluk tak signifikan sampai menjadi spesies paling perkasa membangun dan merusak dunia.

Dua genre yang sangat berbeda, memang. Tapi, ada satu benang merah yang menghubungkan kedua buku tersebut. Jika saya boleh meringkasnya dalam satu kalimat, maka yang saya temukan adalah bahwa kedua buku itu menawarkan semacam bird-eye view tentang perjalanan manusia pulang ke masa depan. Dan, keduanya akur mewanti-wanti bahwa kehidupan manusia berubah cepat, super cepat, dan semakin cepat dengan arah perkembangan teknologi yang semakin sulit diramalkan arah serta bentuknya.

Ya, teknologi, kata kuncinya. Kedahsyatan perkembangannya menggigilkan harapan siapa saja. Terus waspada dan terjaga mengikuti dari jarak dekat perkembangan teknologi pun tak membuat orang aman. Sudah banyak bisnis raksasa di pusat-pusat kemajuan dunia lumpuh dalam sekejap karena tak berhasil menyeiramakan gerak dengan tuntutan arus teknologi.

Batas-batas politik-geografis negara-bangsa masih bertahan, memang, dan karenanya percaturan serta pertarungan politik masih terpelihara keriuhannya di mana-mana. Kalau mengikuti alur pemikiran Harari, mungkin ini kekuatan sisa-sisa hasil revolusi agrikultural 50 ribu tahun silam, ketika manusia mulai “didomestikasi” oleh tumbuh-tumbuhan, bercocok tanam, dan kemudian memerlukan definisi-definisi teritorial.
Cuma, pelan-pelan namun pasti, kesaktian teknologi menggerogoti produk-produk regulasi negara, baik secara frontal-gaduh, maupun secara gradual-senyap. Misalnya, harta yang sudah diekstrak menjadi sandi-sandi digital bisa berpindah dalam hitungan detik sejauh ribuan mil, tanpa perlu bertanya kepada raja atau presiden, boleh apa tidak. Contoh lain, seorang remaja di sebuah kabupaten di Kalimantan bisa mengakses mesin pengeatahuan Google yang sama dengan remaja di Silicon Valley. Tak berlaku pembedaan hak berdasarkan kasta negara maju atau negara terbelakang.

Jangan-jangan dalam waktu yang sangat tidak lama lagi, banyak hal dalam kehidupan yang masih mentereng dan gagah perkasa di masa sekarang bakal segera menjadi objek penelitian “benda-benda primitif” oleh anak-anak generasi milenial. Entah itu gadget, komputer, perusahaan transportasi, perusahaan media massa, restoran, toko buku, bahkan regulasi, sistem politik dan negara… who knows? Semoga tidak ada yang mengatakan percekcokan politik masa kini adalah sisa-sisa kehidupan primitif manusia pra-zaman batu. Soalnya, rata-rata anak-anak zaman milenial (juga orang-orang dewasa produk lampau) yang sudah mensenyawakan diri dengan dunia teknologi sepertinya tak berminat dengan hiruk-pikuk urusan politik. Mereka seperti asyik mengumpulkan bekal untuk pulang ke masa depan.

Sebagai penyuka isu pendidikan, saya sebetulnya ingin melanjutkan dengan pertanyaan, bagaimana seharusnya pendidikan dirancang agar anak-anak tumbuh kuat dalam arus perubahan yang begitu dahsyat? Tapi, pertanyaan itu membuat saya menggigil, tak sanggup membayangkan. Di bagian-bagian akhir Sapiens, Harari melukiskan suatu skenario akhir (kepunahan) manusia berdasarkan riwayat dan proses menggilanya ambisi-ambisi manusia antara lain di bidang bioteknologi.

Apakah ambisi-ambisi itu akan tercapai? Harari hanya menunjukkan rute-rute yang sudah dicapai manusia, seperti rekayasa genetika, cloning, sel tunas (stem cell), supercomputer, print tiga dimensi, robot, kecerdasan artifisial (AI) …. OK, mungkin sebaiknya kita anggap Harari mengigau, dari pada dia membuat kita semakin menggigil. (Itu sebabnya, saya ingin cepat menyelesaikan pekerjaan menerjemahkan buku lanjutan Sapiens, Homo deus, biar segera terbebas dari pikiran-pikiran Harari).

Lupakan Harari, dan ramalannya. Mungkin nasihat menarik Berkowski lebih nyaman didegar: bahwa kemampuan dasar yang niscaya dibutuhkan untuk bertahan dalam arus perubahan cepat nan dahsyat itu adalah kampuan menerawang kebutuhan banyak orang di dunia. Dengan kata lain, jadikan diri bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. Apakah berarti inti pendidikan sesungguhnya adalah menyiapkan pribadi-pribadi yang membawa manfaat? Terus terang, saya masih gelagapan.

Sambil mengucek-kucek matahati yang galau, saya masih terus berusaha mendidik diri, dan semoga dimudahkan untuk anak-anak saya, bahwa hanya keyakinan tentang sebuah kepastian yang dapat menenteramkan hati, bahwa manusia hidup untuk perjalanan pulang kembali kepada Sang Pencipta, Sang Pemilik Keselamatan, Allah ‘Azza wa Jalla. Dialah yang mengutus kekasih-Nya, Muhammad Rasulullah saw, untuk mengajarkan tentang manfaat dan maslahat sebagai bekal pulang. Wallahu a’lam bi al-shawab.

teknologi masa depan

musafir di atap bulan

seorang musafir bersembunyi di atap bulan
mengintai senja yang didaur angin
semua penjuru berkumpul di satu ruangan
tanpa dimensi tanpa ukuran
tapi selalu sesuai dengan setiap musim
juga setiap benih
hanya waktu yang berselisih
seperti air sungai yang mendaur hulu dan hilir

seorang musafir bersembunyi di atap bulan
menjengkali bayangan huruf-huruf
yang memanjang ditinggalkan matahari
menjadi kepastian
yang selalu datang dan selalu pergi
seperti pagi dan senja
juga muara yang melangsir ombak

seorang musafir bersembunyi di atap bulan
membuat senarai hari dari dalam tasnya
tanpa kata tanpa puisi
tapi makna tak pernah berselisih
memangku semua penjuru dan waktu
kini menyapanya di atap bulan

musafir tertidur di atap bulan
dalam mimpinya ia berkelana
menyusuri tepian sungai sampai muara
menemukan pagi dan senja berganti-ganti
dan debur ombak
yang membangunkannya di pantai

bogor, 28-10-2017

 

Sibuk dengan Politik Isu Kosong

Sebuah lingkaran memiliki sudut pembagi yang tak berhingga jumlahnya. Besaran sudut yang bisa dibuat tak terkirakan jumlahnya. Lima, sepuluh, 45, 90 atau 0,001378 derajat? Silakan buat daftarnya. Begitupula jumlah titik dalam satu garis lingkaran, sedangkan jumlah garis dari pusat sampai tepi pun tak terhitung.

Kurang lebih seperti itulah sudut pandang manusia. Manusia tidak dibekali kemampuan untuk mencapai kesempuranaan, utuh 360 derajat, dalam memandang kehidupan. Tempat kita hidup, siapa keluarga kita, siapa teman kita, siapa guru kita, di mana kita belajar, dan banyak lagi….semua membentuk sudut pandang kita. Yang bisa dilakukan adalah memperluas sudut pandang. Caranya? Belajar dari banyak sudut pandang orang lain.

Dalam dunia politik, perluasan sudut pandang seperti itu menjadi musuh utama para politikus busuk yang tak punya karya bermakna buat bangsa. Untuk merebut dan mempertahankan elektabilitas, mereka hanya bisa mengandalkan segregasi, pemeliharaan dan penguatan sekat-sekat. Semakin tajam dan semakin runcing perbedaan, semakin besar peluang untuk terpilih. Semakin nyaman masyarakat dalam sudut pandang sempitnya, semakin besar kesempatan bagi politikus busuk untuk bermain-main. Sehingga, politik sebagai instrumen mengelola negara tereduksi hanya menjadi instrumen penguasaan negara semata.

Salah satu  cara yang mereka tempuh adalah aktif menghidupkan isu-isu kosong, tapi sangat efektif menyibukkan masyarakat yang gagap baca tapi sudah terlanjur terpapar teknologi informasi canggih. Revolusi akbar teknologi digital memungkinkan aktivasi partisipasi luas masyarakat dalam percaturan isu apa saja. Masyarakat yang ‘bisa membaca’ sampai masyarakat hanya bisa ‘latah klik di media-sosial’ … semua bisa berpartisipasi. Di dalamnya tentu saja termasuk proxies, baik yang dapat dipekerjakan secara gratis maupun berbayar.

Tahun 2019 akan lebih ramai dari 2014, dan mungkin akan lebih gaduh serta lebih lama. Nah, tempat ngadem yang paling nyaman adalah menyibukkan diri dengan hal-hal yang relevan dengan profesi dan misi hidup kita. Mari gunakan media sosial untuk itu.

 

repertoar malam

repertoar malam

overture sunyi pada oktaf ketiga
meniti frekuensi
tak berhingga
menyembunyikan kata-kata
merehatkan nada
repertoar malam menjelma puisi
rahasia tak terperi
bulan terpejam
rindu menghujam

bogor, 26/9/2017

Cinta itu Sedekah

Enak tidaknya masakan tergantung seberapa besar cinta dalam hatimu saat memasaknya. Bagusnya tulisanmu pertama-tama bertumpu pada besarnya cinta dalam hatimu saat menulis. Bagus tidaknya cara mengajarmu adalah buah dari cinta dalam hatimu. Pendek kata, apapun statusmu, bagus tidaknya hasil pekerjaanmu lebih erat berikatan dengan cinta ketimbang talenta atau kemahiran.

Setiap manusia tidak lahir dalam keadaan pintar, mahir, atau kaya. Ia hadir ke dunia dalam keadaan papa untuk belajar menumbuhkan cinta yang telah ditanam oleh Sang Maha Pencipta. Dalam cinta ada kesungguhan untuk menyajikan yang terbaik sebagai pengabdian kepada Pemilik Kehidupan.

Cinta yang ditanam Allah swt sejak di alam kasih sayang ibu (rahim) tumbuh untuk menebar kasih sayangNya. Hanya dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang Penyayang, cinta manusia tumbuh-menumbuhkan dalam kehidupan. Tiada pupus, kecuali terputus dari rahmat Allah swt.

Begitulah, sesungguhnya cinta itu memberi, bukan mendamba atau meminta. Cinta adalah keberadaan untuk mengisi yang tidak ada. Cinta tumbuh untuk mengisi kekosongan. Cintalah yang nyata, ada, tidak nisbi. Cinta seperti cahaya, yang pasti selalu menang atas gelap. Karena gelap adalah ketiadaan cahaya, dan karenanya gelap itu sesungguhnya tidak ada.

Bismillahirrahmanirrahim. Mari terus tumbuhkan cinta di hati untuk tumbuh-menumbuhkan dalam kehidupan.

Selamat Tahun Baru 1439 H

Bersyukur dimulai dari kesadaran betapa sedikit yang sanggup kita kenali di antara limpahan tak terkirakan nikmat dan rahmat Allah swt.  Karena itu, melekat pula padanya keharusan belajar: belajar mengenali diri dengan nikmat-rahmatNya yang tak terhitung. Semakin banyak belajar, semakin banyak kesempatan berterimakasih dengan pemanfaatan terbaik karunia-Nya.

Berterimakasih tak selalu mudah, dan rintangan terbesarnya ada dalam diri: kebodohan, kemalasan, kesombongan, dan hawa nafsu. Semua kelemahan itu terus ada dan tak pernah hilang. Kesabaran berikhtiar adalah jalan untuk mengatasi rintangan-rintangan itu.

Bersabar adalah perkara yang berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. Orang yang khusyu’ adalah orang-orang yang menyadari tujuan hidupnya: kembali kepada Allah swt, tempat bergantung segala urusan, tempat memohon pertolongan atas segala kesulitan.

Semoga Allah swt senantiasa membimbing langkah kita. Amin ya Mujib as-sailin.

Selamat Tahun Baru 1439 H