Category Archives: Puisi

hujan november (3)

akhir november turun di musim hujan
kubiarkan sedari pagi tubuhku meresap
ke dalam dingin yang tanpa selimut
mungkin karena angin sudah bergegas
melupakan embun
menghalau rindu
menghadang matahari

ia menyeringai
dan bertanya,
“apakah hatimu pernah membara?”
“seperti janji?”
“atau seperti puisi yang membakar api?”

semakin erat kupeluk dingin yang menggigil

ia menyeringai
dan berkata,
“lupakan saja janjimu pada hujan!”
“seperti november yang hanya datang menyapa”
“seperti kota-kota yang terus berkelana”
“seperti mimpi…. ya, seperti mimpi yang selalu lupa….”

tiba-tiba dingin menjelma bara
menyeruak ke angkasa

“diaaaam!!!”
hening

bogor, 30-11-2017

Advertisements

musafir di atap bulan

seorang musafir bersembunyi di atap bulan
mengintai senja yang didaur angin
semua penjuru berkumpul di satu ruangan
tanpa dimensi tanpa ukuran
tapi selalu sesuai dengan setiap musim
juga setiap benih
hanya waktu yang berselisih
seperti air sungai yang mendaur hulu dan hilir

seorang musafir bersembunyi di atap bulan
menjengkali bayangan huruf-huruf
yang memanjang ditinggalkan matahari
menjadi kepastian
yang selalu datang dan selalu pergi
seperti pagi dan senja
juga muara yang melangsir ombak

seorang musafir bersembunyi di atap bulan
membuat senarai hari dari dalam tasnya
tanpa kata tanpa puisi
tapi makna tak pernah berselisih
memangku semua penjuru dan waktu
kini menyapanya di atap bulan

musafir tertidur di atap bulan
dalam mimpinya ia berkelana
menyusuri tepian sungai sampai muara
menemukan pagi dan senja berganti-ganti
dan debur ombak
yang membangunkannya di pantai

bogor, 28-10-2017

 

repertoar malam

repertoar malam

overture sunyi pada oktaf ketiga
meniti frekuensi
tak berhingga
menyembunyikan kata-kata
merehatkan nada
repertoar malam menjelma puisi
rahasia tak terperi
bulan terpejam
rindu menghujam

bogor, 26/9/2017

Purnama Tembi Memulangkan Yudhistira Massardi

Sepasang tugu berwarna merah bata berdiri tegap di belakang arena teater mungil yang menghadap tribun berkapasitas seratusan penonton. Pagar teralis setinggi satu setengah-an meter yang bertumpu pada tembok bata memisahkannya dari hamparan sawah. Teater alam terbuka milik Rumah Budaya Tembi menjajakan sajian khas berselera… (upppps… koq jadi terbawa-bawa ke syair Katon Bagaskara???).

Maaf-maaf. Tapi, Tembi memang salah satu dari berjuta harta kebudayaan Yogyakarta. Tempatnya sekitar 15 kilometer dari pusat kota. Malam purnama sempurna Rabu 6 September lalu para pegiat sastra memadatinya. Tribun penuh, tapi syahdu, meyimak “Yudhistira ANM Massardi Kembali ke Yogya Membaca Sastra”.


PHOTO BY HALIDA WIBAWATY

Begitulah tema Sastra Bulan Purnama Tembi ke-72 yang menandai ulangtahunnya yang keenam. Ons Untoro, sang panglima hajatan bulanan itu, menuturkan tingginya gairah bersastra di sana. Dari berbagai kalangan. Yang belia dan yang sepuh. Menurut Ons, sastrawan Yogya yang (sebagaimana Yudhis) juga alumnus  Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi, mereka rela antre untuk bisa tampil membaca puisi atau musikalisasi puisi di acara yang sudah terjadwal setahun penuh.

Pulangnya Yudhistira Massardi setelah 50 tahun seperti refleksi dan dialog lintas generasi kesusastraan Yogyakarta. Dimulai sekitar pukul delapan malam, pembacaan karya-karya Yudhis dibuka dengan “Sebelum Pintu” dari buku puisi terbaru Yudhis, Perjalanan 63 Cinta, yang dibawakan Dita Yuliana Paramita.  Tahun ini Dita baru lulus kuliah dan sedang menanti saat penugasan sebagai abdi negara.

Sebelum Pintu

Sebelum pintu
Kau menciumku
Ada angin membuka
Kelopak mawar
Dekat jendela kamar

“Kamukah yang berbisik
Di telinga daun?”

Ah, sayangku
Pagi masih berkabut
Dedaun kering di rumput
Sinar matahari melukis embun
Dua ekor semut ngungun
Capung-capung bersenandung

“Apakah kita masih berbulan madu?”

***

Meski tetap menulis sajak sedikitnya satu setiap tahun untuk ulang tahun sang istri Siska Yudhistira Massardi dan perkawinan mereka, Yudhis belakangan lebih disibukkan oleh kegiatan sosial di bidang pendidikan. Mereka mengelola Sekolah Batutis Al-Ilmi, sekolah gratis untuk kaum dhuafa di Pekayon Bekasi.

Yudhis baru kembali melahirkan karya sastra pada tahun 2015, setelah absen lebih dari 20 tahun, dengan buku puisi 99 Sajak. Buku itu langsung menggebrak dengan meraih dua penghargaan sekaligus, sebagai buku puisi terbaik versi Yayasan Hari Puisi Indonesia dan Badan Bahasa. Tahun berikutnya, Kepustakan Populer Gramedia (KPG) kembali menerbitkan karya Yudhis, Perjalanan 63 Cinta, yang malam itu lebih memikat para penampil di Tembi.

Dari buku itu, Ninuk Nirawati dari generasi yang lebih senior dari Dita, membawakan “Sunyi Itu”. Vokalnya yang lembut dan kuat berhasil mengayun penonton menapaki lintasan diksi-diksi Yudhis yang segar, usil dan penuh kejutan. Ada pula “Presiden” Mari Membaca Puisi (MPP) Aly D Musyrifa yang sangat bernas membawakan “Siska” .

Dokter Halida Wibawaty, seorang ahli mata dari Surakarta yang supersibuk, turut antusias menyemarakkan arena teater Tembi. Ia mengaku sudah lama menjadi penikmat karya-karya Yudhis. Saat mendapat tawaran untuk tampil, ia segera mencari kedua buku puisi mutakhir Yudhis, dan menemukan masing-masing satu puisi dari kedua buku puisi itu yang “benar-benar klik di hati saya”: “Sajak Sembilan Rasa (6)” dan “Hujan Mawar”.

Syukurlah, jadwalnya pas. Malam itu Halida bisa tampil segar di Tembi setelah pulang dari dua lawatan ke luar negeri, Tokyo dan Melbourne.

Jarak generasi tak menghalangi para penampil untuk lancar menyuguhkan tafsir vokal yang memesonakan atas karya-karya Yudhis. Jauh sebelum Dita lahir sebagai generasi milennial, Yudhis sudah menyeruak dengan buku kumpulan puisi fenomenal Sajak Sikat Gigi, yang terpilih menjadi buku puisi terbaik 1977 dari Dewan Kesenian Jakarta. Meniti untaian kata Yudhis yang –meskipun tak senakal era 70 dan 80-an– tetap usil, para penampil sukses meletupkan dentuman-dentuman vokal yang pas pada tiap tikungan diksinya.”

….
Angin pun tertidur di genting
Hingga hujan menggelantung

“Kenapa harus ada jarak antara kota?” katamu

Ya, sayangku
Karena sunyi tak ada di peta!
“Sunyi”, Perjalanan 63 Cinta.

***

Sastra Bulan Puranama Tembi malam itu tentu saja menjadi ajang reuni dan napak tilas bagi Yudhis. Sutirman Eka Ardhana, teman seangkatan di Yogya, hadir dan tampil membawakan “Biarin” dari buku Sajak Sikat Gigi.  Selain itu, Yudhis juga tiba-tiba terbawa kepada kenangan bersama salah satu sahabat baiknya, mendiang Franky Sahilatua. Rinawan Ardono atau lebih dikenal dengan sapaan Donas menyuguhkan tafsir nada yang memukau atas Hujan Mawar. Donas adalah  pemusik yang mengerjakan beberapa album terakhir Franky. Sedangkan Yudhis adalah penulis lirik lagu-lagu pada enam album awal Franky.

Yudhis mengaku sangat bersuka cita dengan keragaman warna tafsir-tafsir vokal dan nada yang malam itu hadir di Tembi. Sebelum membaca Sajak Sembilan Rasa dan beberapa puisi dari Perjalanan 63 Cinta, Yudhis mengajak penonton berkelana ke masa silam. “Si Mbah mau mendongeng,” katanya.

Datang di Yogya tahun 1967 sebagai murid SMP Taman Dewasa di Jalan AM Sangaji, Yudhis mengaku sangat beruntung berada di tahun-tahun yang luar biasa. Dengan status anak yang masih “bercelana pendek”, Yudhis mengaku beruntung bisa bertemu, bergaul dan berguru pada begitu banyak tokoh dan calon tokoh nasional. Tak perlu disebutkan satu-satu di sini, karena mereka sangat terkenal pakai banget.

Dari mereka dan dari Yogyakarta yang luar biasa itu, Yudhis mengasah ketajaman berkesusastraan dan keterampilan merekam kehidupan dalam endapan makna yang sarat. Di Tembi, Yudhis pulang membacakan catatan-catatannya. Olah vokalnya yang tetap prima seperti menyuguhkan drama di bawah purnama.

3 (Sajak Sembilan Rasa)

Banjir lagi?
Ya, ya, ya, banjir lagi
Cuma bandang yang ke luar batasan
Karena sungai menciut
Karena sampah ketinggalan truk
Karena rumah-rumah mengerami penduduk

“Yang bisa banjir cuma air
Emang mau jadi apa lagi?”

Segala yang kotor girang berenang
Mereka berenang di ruang tamu
Mereka masuk ke kamar gadis-gadis
Mereka mencuri makanan di dapur-dapur
Mereka juga naik ke atap-atap
Seperti tikus got beli apartemen!

Emang mau main layang-layang juga?
“So, what? Sudah tradisi, mas bro!”
***

Malam itu para penonton di Tembi juga  khusyuk menikmati sebagian dari 100 puisi terbaru Yudhis yang akan segera terbit dalam buku puisi Luka Cinta Jakarta. Selesai acara, seorang pegiat teater Yogya menghampirinya, meminta print-out puisi-puisi terbaru yang dibacakan itu.

Puisi-puisi itu sebetulnya khusus untuk Jakarta.  Ah, tapi dalam bingkai catatan kehidupan Yudhis, Jakarta dan Yogyakarta itu memang dekat. Sedekat kenangan dari generasi ke generasi. Jadi, harap dicatat pula, di Yogkarta bukan waktu bergerak melambat. Itu mungkin lebih karena efek kenangan yang memuai.

Cinta Mengurung Yudhistira “Arjuna” Massardi

Cukup lama resensi ini tertunda, sepekan lebih. Tak ada penyebab dan alasan lain yang bisa saya ajukan buat mengharapkan permakluman, selain tetek-bengek klise rutinitas sebagai penulis lepas dan tuntutan-tuntutan tenggatnya. Sebagaimana pentas pembacaan puisi sekitar satu setengah tahun sebelumnya, pentas “Perayaan Cinta” menghadirkan “tikungan-tikungan” yang mengejutkan khas puisi-puisi Yudhistira Massardi.

Untuk kedua kalinya, penyair senior Yudhistira ANM Massardi menyuguhkan pentas pembacaan puisi di Galeri Indonesia Kaya, Mal Grand Indonesia Jakarta Pusat, pada 28 Februari 2017. Di tempat yang sama, pada 19 Agustus 2015, Yudhistira menghadirkan pentas pembacaan buku kumpulan puisi 99 Sajak, yang meraih dua penghargaan: Buku Puisi Terbaik 2015 dari Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015 dan Buku Puisi Terbaik versi Pusat Pembinaan Bahasa Tahun 2016. Kali ini, pentas untuk buku kumpulan puisi berjudul Perjalanan 63 Cinta, Kumpulan Puisi Biografis hadir bersamaan dengan perayaan ulangtahun Yudhis yang ke-63. Kedua buku puisi diterbitkan oleh Kepustakaan Popular Gramedia (KPG).

Selain mengandalkan kekuatan olah vokal Yudhis sendiri yang tetap prima, pentas menyuguhkan dua jawara jagad panggung teater, Renny Djajoesman dan putrinya, Yuka Mandiri. Meski demikian, entah karena kekuatan puisi-puisi Yudhis atau karena kejelian memilih pembaca-pembaca puisi (mungkin dua-duanya), pentas malam itu terasa mengalir begitu mulus, mulai dari pembaca belia Danastri Ramadhani (Dhani) dan Si Bungsu Kafka Dikara, sampai Renny-Yuka dan sastrawan senior Jose Rizal Manua.

Dahni, misalnya, dengan suara lembutnya mampu menampilkan secara utuh tikungan bait pada Hongdae.

Seperti nyanyi empat musim
Dalam sonata dan orkestra
Yang selalu dimainkan ulang
Oleh para pecinta yang ogah pulang
“Kita akan pindahkan Bekasi ke sini?” katamu.

Atau Kafka yang berpostur atletis mengibarkan aura daya juang dalam Orchard

Beberapa lagu
Melupakan waktu
Ketika kata-kata

Menguning
Tak mau luruh
Menjadi Nada

Dalam olah vokal padat Jose Rizal Manua, Tahun Baru tampil mengusik, menggalaukan dan jenaka sekaligus.

Ingin kutuliskan sesuatu yang bukan Senin sampai Minggu
Bukan juga 1 sampai 31

Aku ingin menulis tentang Kamu
Pemilik segala yang silam maupun yang datang
………..dst.

……..
“Apakah kita melupakan sesuatu?
Seperti sepasang sepatu yang menyesatkan tamu?”

“Ah, kamu terlalu parno! Tenang saja.
Sang waktu ibarat borgol, ia selalu menepati janji sampai kita mati!”

“Ah, kenapa kita bicara mati?”
“Selamat Tahun Baru sayangku. Selamat menempuh hidup baru!”

“Kalau mati?”

“Mungkin mejan. Ganti sumbunya!”

Ya, jelajah Cinta Yudhistira mengembara ke segala penjuru, bahkan tersungkur di lantai Raudhah, sebagaimana terlukis dalam Madinah yang ditampilkan secara teatrikal nan elok oleh Renny Djajoesman.

Aku duduk ngungun di sudut kasur
Tertatih-tatih mengeja alif-ba-ta-Mu
Duka itu tak terlepas juga
Aku masih terlilit oleh tetek bengek yang fana
Padahal, jauh dari negeriku aku datang untuk memahami-Mu
Ingin mencari Cinta-Mu.

Juga dalam Nur, melalui interpetrasi teatrikal lain oleh Yuka Mandiri.

……
: Al-Qur’an

Dan bintang-bintang
Berkilau
Di sayap-sayap malaikat

: Kata
Demi akhlak
Demi akhlak
Demi akhlak

:Ku

(15 abad tak sudah!)

Iga “Barasuara” Massardi

Pentas “Perayaan Cinta” juga diperkaya oleh keragaman tafsir musikal atas karya-karya Yudhis. Duet Antareza dan Soemantri Junior dengan nuansa gitar akustik, duo Chikita-Isabella Fawzi dengan perpaduan gitar akustik dan akordion, penjelajahan Iga “Barasuara” Massardi dalam desis-desis melodi gitar elektrik beserta efeknya yang sublim untuk berdialog dengan olah vokal Tika yang berselancar dalam rentang nada tak kurang dari tiga oktaf, dan…. persekutuan vokal soprano Artidewi dengan notasi-notasi anggun grand-piano dan cello.

“Kebebasan interpretasi”, begitu Iga menggambarkan dalam introduksinya beberapa saat sebelum pentas dimulai. Setiap tafsir musikal berangkat dari kebebasan. Lengkap, memukau, memesonakan! Maka pantas pentas ini jauh-jauh hari di-woro-woro-kan dengan tajuk “Merayakan Cinta Bagi yang Berjiwa Muda.” Sepanjang pertunjukan, tafsir-tafsir musikal yang berbeda-beda itu seperti meruapkan puisi-puisi tersendiri dalam apresiasi dan gemuruh tepuk tangan sekitar 200 penonton.

Perjalanan 63 Cinta bukan sekadar resume puitis biografi cinta Yudhistira, sang penulis novel legendaris Arjuna Mencari Cinta. Ini bukan buku tentang pencarian cinta. Buku ini mendekati visualisasi perjalanan Yudhis yang telah basah kuyup dikurung cinta. Cinta bersama Siska yang tidak hanya menyemai satu demi satu keluarga baru dan kehadiran cucu, tetapi juga membuka ladang amal bersama yang siap diolah siapapun penerusnya: Sekolah Batutis Al-Ilmi. Iga yang semakin kokoh mengibarkan bendera “Barasuara” memberinya cucu cerdas jelita Kiarakuma, Taya (puteri satu-satunya) yang telah berteduh dalam mahligai rumahtangga kini turut berkhikmad di Sekolah Batutis. Dan Kafka, tak lama lagi merampungkan kuliahnya.

………
Menjadi 50 tahun kekasihku,
Bagai prasasti: terpahat gurat dan tanda, tangis dan tawa
juga debu dan ilalang, yang datang dan yang hilang
juga berpasang-pasang harapan
yang terbang bersama 19 kupu-kupu perkawinan
membawa Iga, Taya dan Kafka ke masa depan
………

(50)

Dan, saya, sebagai salah satu pemetik keindahan “Perayaan Cinta” malam itu mendapatkan apa yang dijanjikan Agus Darmawan T dalam kata pengantar buku, “….kita dikondisikan seperti sedang mencuri baca buku harian orang lain. Asyik, buru-buru dan deg-degan….” mencurinya secara lebih lengkap dari panggung yang dipandu Ario Kiswinar Teguh. Yang tidak sempat nonton, baca saja, bukunya tetap asyik, buru-buru dan deg-degan, bahkan setelah saya menonton pertunjukan itu.

sajak cokelat

sajak cokelat

aku bermimpi
melihat bunga tumbuh
menjadi nada
waktu itu kata-kata merambat
dalam warna cokelat
seperti ingin menjadi puisi
lalu aku terjaga
bangun dan mendekat
terus mendkekat
seperti titik-titik….

bogor, 18122016

sajak-cokelat