Category Archives: Tadarus

Cinta itu Sedekah

Enak tidaknya masakan tergantung seberapa besar cinta dalam hatimu saat memasaknya. Bagusnya tulisanmu pertama-tama bertumpu pada besarnya cinta dalam hatimu saat menulis. Bagus tidaknya cara mengajarmu adalah buah dari cinta dalam hatimu. Pendek kata, apapun statusmu, bagus tidaknya hasil pekerjaanmu lebih erat berikatan dengan cinta ketimbang talenta atau kemahiran.

Setiap manusia tidak lahir dalam keadaan pintar, mahir, atau kaya. Ia hadir ke dunia dalam keadaan papa untuk belajar menumbuhkan cinta yang telah ditanam oleh Sang Maha Pencipta. Dalam cinta ada kesungguhan untuk menyajikan yang terbaik sebagai pengabdian kepada Pemilik Kehidupan.

Cinta yang ditanam Allah swt sejak di alam kasih sayang ibu (rahim) tumbuh untuk menebar kasih sayangNya. Hanya dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang Penyayang, cinta manusia tumbuh-menumbuhkan dalam kehidupan. Tiada pupus, kecuali terputus dari rahmat Allah swt.

Begitulah, sesungguhnya cinta itu memberi, bukan mendamba atau meminta. Cinta adalah keberadaan untuk mengisi yang tidak ada. Cinta tumbuh untuk mengisi kekosongan. Cintalah yang nyata, ada, tidak nisbi. Cinta seperti cahaya, yang pasti selalu menang atas gelap. Karena gelap adalah ketiadaan cahaya, dan karenanya gelap itu sesungguhnya tidak ada.

Bismillahirrahmanirrahim. Mari terus tumbuhkan cinta di hati untuk tumbuh-menumbuhkan dalam kehidupan.

Advertisements

Selamat Tahun Baru 1439 H

Bersyukur dimulai dari kesadaran betapa sedikit yang sanggup kita kenali di antara limpahan tak terkirakan nikmat dan rahmat Allah swt.  Karena itu, melekat pula padanya keharusan belajar: belajar mengenali diri dengan nikmat-rahmatNya yang tak terhitung. Semakin banyak belajar, semakin banyak kesempatan berterimakasih dengan pemanfaatan terbaik karunia-Nya.

Berterimakasih tak selalu mudah, dan rintangan terbesarnya ada dalam diri: kebodohan, kemalasan, kesombongan, dan hawa nafsu. Semua kelemahan itu terus ada dan tak pernah hilang. Kesabaran berikhtiar adalah jalan untuk mengatasi rintangan-rintangan itu.

Bersabar adalah perkara yang berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. Orang yang khusyu’ adalah orang-orang yang menyadari tujuan hidupnya: kembali kepada Allah swt, tempat bergantung segala urusan, tempat memohon pertolongan atas segala kesulitan.

Semoga Allah swt senantiasa membimbing langkah kita. Amin ya Mujib as-sailin.

Selamat Tahun Baru 1439 H

Dzulhijjah Bulan Yudisium Akhir Tahun

Dzulhijjah adalah bulan penghabisan dalam kalender hijriyah. Jika hidup adalah perniagaan, niscaya manusia pebisnis di bulan ini melakukan penghitungan teliti, mengevaluasi diri. Sehingga, didapatlah pijakan yang baik untuk menyusun rencana peningkatan di tahun baru.

Umumnya, pebisnis ulung tidak menyukai sesuatu yang rutin dan biasa-biasa saja. Ia selalu tekun mengasah kreativitas, mengendus peluang baru, dan mengurai setiap sumber masalah. Karenanya, pebisnis yang tangguh tidak pernah anteng dalam semata-mata zona kenyamanan laba maunpun sebaliknya nyungsep meringkuk dalam tindihan rugi. Bisnis adalah jalan hidup bagi mereka.

Untuk semua ketangguhan dan keteguhan itu, para pebisnis sejati mendapatkan tempaan dari beragam pengalaman dan pelajaran. Terkadang pelajaran didapat dari ikhtiar dengan niat, perencanaan dan kesadaran. Tapi, tak jarang pula seorang pebisnis naik derajat mendaki sejengkal demi sejengkal dari jalan terjal panjang kesalahan-kesalahan yang harus dilalui tanpa ada pilihan lain.

Mengapa? Karena memang tidak tersedia jalan lain baginya menemukan pelajaran, selain mencoba, berusaha dan membentur kekeliruan (trial-and-error). Tidak ada jalan lain karena dia hanya punya satu pilihan: bergerak untuk bertahan.

Dari manapun pelajaran didapat, pebisnis ulung adalah amtsal kehidupan yang sejati. Sebab, pebisnis ulung mewujudkan pelajaran menjadi laku kehidupan nyata. Pebisnis ulung tidak sama dengan pelajar yang tekun menjaring ijazah demi ijazah sampai sekolah tinggi, lalu mengandalkan hidupnya pada tanda-tanda kelulusan itu. Ilmu yang dipelajarinya sepanjang masa bersekolah sudah diekstrak menjadi label-label angka-angka. Maka, keahlian dan keterampilan untuk kehidupan baru akan mulai dipelajari setelah lulus.

Jika kita memilih jalan pebisnis ulung, bukan pelajar pemburu ijazah, maka seseungguhnya amatlah besar rangkaian pelajaran kehidupan yang baru kita lalui tiga bulan sebelum Dzulhijjah. Dimulai dengan bulan Ramadhan, kita diajak melakukan overhaul fisik-mental selama sebulan penuh.

Dari segi fisik, tubuh kita dibersihkan dari asupan-asupan yang tidak baik maupun asupan-asupan baik yang berlebihan selama delapan atau bahkan sebelas bulan sebelumnya. Banyak yang menambah pembersihan itu dengan puasa Syawal, puasa Tasyrik atau puasa-puasa sunah lainnya. Jika berhasil, berarti kita sebetulnya berhasil membebaskan diri dari penguasaan hawa nafsu material ragawi.

Dari segi mental, dengan jumlah raka’at bertambah banyak dengan shalat-shalat tarawih di malam hari, maka mestinya semakin terlatih pula shalat kita dalam kehidupan nyata. Sekurang-kurangnya, kita memiliki daya juang yang lebih kuat dalam menghadapi bermacam-macam tantangan, karena kita mampu bekerja dalam keadaan lapar dan dahaga.

Kita pun seyogyanya semakin terlatih membawa misi kasih sayang dengan semakin seringnya kita lantunkan ikrar Bismillahirrahmanirrahim. Kita menjadi lebih peka dan lebih peduli pada sesama manusia yang kekurangan, baik karena merasakan lapar dan dahaga maupun karena keringanan hati untuk melakukan zakat dan sedekah.

Lalu, ibadah haji, baik bagi hamba yang telah mentdapat kehormatan menjadi tamu-Nya di ¬†Haramain maupun yang belum, adalah pelajaran kehidupan besar yang dinukilkan dari keteladanan keluarga kekasih Allah, Nabiyullah Ibrahim as. Sebab, setiap manusia yang ingin hidup sukses pertama-tama harus mengenali diri dan tujuan hidupnya (wuquf di Arafah); berthawaf dalam garis edar kehidupan yang teratur; berjibaku sa’i tanpa kenal putus asa mencari rizki-Nya; dan selalu membersihkan dan membuang kekuatan buruk dalam jiwa.

Dan terakhir, dengan rangkaian penempaan mental itu, puncaknya adalah kemampua menyembelih kekuasaan hawa nafsu material atas hati, akal dan jiwa.

Semoga kita termasuk manusia yang meraih yudisium berkualitas di bulan Dzulhijjah ini, dan siap memasuki tahun baru hijriyah dengan bekal yang baik. Allah al-Musta’an.

Ketika Akal Budi Menjadi Ruang Hampa

Lagi. Pejabat tinggi ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kali ini Direktur Jenderal Hubungan Laut, Kementerian Perhubungan. Kenikmatan apa lagi yang membayang dalam perburuan yang menjerumuskan seorang pejabat dengan pangkat setinggi itu?

Dalam terminologi birokrasi, Direktur Jenderal, atau Director General, adalah pangkat tertinggi. Tak ada lagi tangga karier di atasnya kecuali keberuntungan politik membawa seseorang ke kursi menteri atau presiden. Tapi, hawa nafsu selalu menyediakan tangga tak terbatas. Dengan hawa nafsu, batas-batas menjadi kosong dan akal budi (af’idah) menjadi ruang hampa.

Dalam keadaan seperti itu, akal budi sudah bukan lagi subjek aktif, melainkan predikat benda atau materi. Ia tidak lagi bergerak atau menggerakkan, tapi berada di manapun, mengikuti benda atau materi. Ia digerakkan, walau tampak berkuasa. Dengan kata lain, ia adalah beban bagi alam semesta, bukan pembawa manfaat, apalagi penyampai rahmat.

Maka bayangkan jauhnya derajat nista seseorang yang dikuasai hawa nafsu dengan derajat tinggi sehelai daun mungil yang bertasbih dalam peran kehidupan yang istiqamah sampai akhir masa tugasnya. Tasbihnya membawa manfaat dan rahmat bagi alam semesta.

Hawa nafsu adalah hijab, pemisah antara kesadaran diri dan tujuan hidup. Seseorang yang dikuasai hawa nafsu bukan tidak berpengetahuan, juga bukan tidak beragama. Pengetahuannya tidak hilang. Pun, ia sangat mungkin religius. Tapi, hawa nafsu melebur pengetahuan dan ritual agama menjadi kekosongan dalam ruang hampa.

Bagiku, tragedi Dirjen Hubla adalah warning betapa berat mengendalikan diri, mengendalikan hawa nafsu. Butuh latihan terus menerus dengan ikrar penyadaran setiap saat untuk tetap berada pada garis tujuan hidup, untuk tetap berada dalam garis Syahadat. Semakin jelas bagiku bahwa Syahadat adalah rukun kehidupan yang kubutuhkan tidak semata-mata sebagai akad lisan di permulaan.

Syahadat adalah pemandu utama pada setiap jengkal perjalanan. Jika Syahadat-ku hampa, maka shalatku pun hanya gerak-gerik ritual tanpa makna. Puasaku hanya berbuah lapar dan dahaga. Zakatku sekadar keresahan pada materi yang berkurang sebagian. Aku tak akan pernah sampai pada padang pemahaman sejati (‘arafah), apalagi beroleh zam-zam maslahat bagi dari dan orang lain. Na’udzu billah.

Ya Muqallib al-qulub, tsabbit qalby ‘ala dinik.

Lampu Kenangan

Buritan kapal lepas dari sandaran di pelabuhan. Perlahan aku menjauh dibawa umurku, meninggalkanmu dengan perasaan berdebar-debar. Dada bergemuruh rapuh seperti kumpulan buih-buih di bekas perlintasan.

Cukupkah bekal yang kubawa darimu? Bahkan, aku harus bertanya adakah sesungguhnya yang dapat kubawa darimu? Di depan, setiap hari adalah satuan samudera dengan kedalaman yang baru, gelombang yang baru, dan kehidupan yang baru.

Bagaimana mungkin aku dapat nyenyak dalam ketidakpastian, kecuali aku tertidur? Tidur, tidur, tidur, lupa…. bahwa aku pernah berkata merindukanmu. Rindu seperti kelap-kelip lampu kenangan yang timbul tenggelam, berharap nanti berjumpa lagi. Membasuh daki, melebur dosa, menyeka nafsu… terus dan selalu begitu.

Ya Ramadhan, aku berlayar hanya dengan kelap-kelip lampu kenangan yang timbul tenggelam, dan dengan hati yang rawan.

Ujian yang Berat

Pada setiap momen yang membahagiakan, lidah hampir-hampir bergerak otomatis untuk melafalkan kalimat pujian kepada Allah swt, Dzat Yang Maha Berkehendak atas segala yang terjadi pada setiap makhluk ciptaan-Nya, dan karena itu yang berhak atas segala pujian. Kalimat hamdalah dilatihkan setiap hari, pagi-siang-malam.

Namun, ternyata menggenapkan sekujur raga, hati dan akal pikiran untuk total selaras dengan ucapan lidah tidaklah mudah. Lidah melafalkan pujian kepada Allah swt, tapi hati kerap kesulitan menyingkirkan rasa diri pantas mencapai kebahagiaan. Akal sempoyongan melawan rasa mampu meraih kebahagiaan. Dada berdegup dipacu rasa diri hebat. Hidung mengembang ditiup rasa “inilah aku!” Telinga pun kepanasan bila diterpa suara yang menyepelekan. Dan semua itu jelas tidak sejalan dengan ucapan pujian lidah yang otomatis.

Maka, benarlah kesenangan, kebahagiaan, keberhasilan sejatinya adalah ujian yang tak kalah beratnya dengan kesedihan, kemalangan dan penderitaan. Ujian yang mudah menggelincirkan manusia dari kesadaran atas apa yang dengan lancar dapat diucapkan oleh lidah. Ujian yang rawan menjerumuskan manusia pada jerat belenggu kesombongan.

Sungguh mulialah hamba-hamba Allah yang mampu mencapai puncak kebahagiaan bersyukur dengan membebaskan diri dari belenggu kesombongan. Merekalah orang-orang yang menemukan kebahagiaan sejati. Ya Allah sampaikanlah usiaku ke bulan Ramadhan. Bimbinglah aku menapak jejak hamba-hambaMu yang berhasil, bukan jalan sesat yang Engkau murkai. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Politikus Membela Agama, Mungkinkah?

Tulisan ini saya tempatkan dalam kategori “Tadarus”, yang berarti renungan yang bersifat subjektif-personal. Tiba-tiba saja terbersit dalam pikiran saya, berandai-andai kalau saya menjadi seorang politikus. Hanya sebatas berandai-andai, karena saya merasakan sekujur pribadi dan pengalaman saya tak punya potongan, apalagi bakat, menjadi politikus. Pun, dalam pergaulan, sampai saat ini saya belum punya teman dekat seorang politikus. Teman dekat itu bisa berarti teman sekolah, teman sekantor, teman sekampung, atau sekurang-kurangnya saat ini saya punya keleluasaan untuk berkomunikasi dengan orang seperti itu. Tidak ada.

OK, kenapa saya memilih topik “membela agama”? Ya, terus terang, hiruk-pikuk politik yang begitu turbulent sejak Pemilihan Presiden 2014, ditambah Pilkada DKI 2017, memapar saya dengan isu agama, dengan intensitas yang sangat-sangat besar. Mungkin tak berlebihan kalau saya katakan kedua event politik itu membawa gemuruh isu agama yang paling besar sepanjang sejarah politik di Indonesia.

Mungkin pakar politik bisa membangun argumentasi rasional bahwa gemuruh isu agama itu hanya semacam kewajaran, atau bahkan keniscayaan. Tapi, sebagai bukan siapa-siapa selain “fulan bin awam” dalam urusan politik, yang saya lihat adalah banyak ekses negatif, walau tidak semua berimbas langsung ke saya sebagai pribadi. Misalnya, banyak energi tersedot untuk perdebatan muter-muter, perselisihan pendapat tanpa ujung, bahkan pertengkaran dan permusuhan (dalam lingkup pertemanan dan keluarga). Sebegitu mahalkah pertaruhannya?

Pertanyaan itulah titik pijakan untuk judul tulisan yang saya pilih. Segala hiruk pikuk ini bisa dikerucutkan menjadi sebuah proposisi bahwa ada sebuah arus besar yang menempatkan agama begitu tegas, begitu formal, begitu saklek, begitu rigid di belakang satu pilihan politik tunggal. Arus itu memaklumkan garis tegas kepada khalayak pemilih, sangat mirip dengan ungkapan terkenal Presiden Amerika Serikat George W. Bush di awal milennium sebelum menggelar perang di Irak: “Either you’re with us, or against us.” (Saat itu, Bush bahkan secara harfiah menyetarakan tawarannya itu dengan jargon “Crusade” atau Perang Salib).

Bisa dikatakan, gemuruh isu agama di Pilpres 2014 dan Pilkada DKI 2017 adalah fenomena yang belum ada presedennya di Indonesia. Di zaman Orde Lama, memang pernah terjadi Kongres Umat Islam. Tapi faktanya, politik Islam tersalur alamiah ke lebih dari satu aliran. Ada Masyumi, ada NU, ada sosialis Islam, dan tentu saja nasionalis. Ketika patron hegemoni Orde Baru runtuh di tahun 1998, ada peluang lagi dan bahkan sudah ada upaya “menunggalkan” kembali politik Islam. Faktanya, upaya itu bukan hanya gagal, tapi para politikus senior Islam sampai akar rumut pun sangat nyaman memegang bendera masing-masing: PKB, PKS, PAN, PPP, PBB, dan sederet partai-partai mungil. Yang di Golkar dan PDIP pun bejibun.

OK, mungkin tidak sopan kalau menggugat para politikus Islam pasca Orde Baru ketika itu, kenapa mereka belum mengerti bagaimana caranya bersatu. Tapi, sebaliknya tentu boleh, dong, memaknai pilihan-pilihan bendera itu adalah pilihan politik biasa-biasa saja. Pilihan politik yang sah, pilihan firqah yang OK, pilihan tha’ifah yang lumrah, pilihan jam’iyat yang acceptable untuk membangun negara. Yang penting, akhlak bagus, integritas kokoh, prinsip-prinsip religiusitas dijalankan… dan seterusnya. Lho, kenapa sekarang tiba-tiba pemilih diancam label keluar shaf ketika punya pandangan yang baik untuk negara, yang kebetulan berbeda bendera?

Ada yang mengatakan Pilpres 2014 dan Pilkada DKI 2017 adalah momentum suci penyatuan umat Islam yang tak boleh disia-siakan. Saatnya umat bersatu, begitu katanya. Bersatu dengan apa? Dengan koalisi pelangi partai-partai politik merah-kuning-hijau di langit yang biru? Apakah legislator muslim sudah bersih dari hobi nilep anggaran? Apakah legislator muslim sudah bersih dari riwayat tamasya ke luar negeri dengan menipu pake “studi banding”? Apakah legislator muslim sudah tak tersangkut arisan proyek negara?

Mungkin ajakan umat Islam bersatu dalam pilihan politik akan memiliki basis yang kuat, tanpa harus menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu. Caranya? Berikan bukti yang otentik bahwa politikus muslim itu memang membela agama, yang berarti memperjuangkan rahmat Allah untuk bangsa Indonesia. Misalnya, gaya hidup sederhana, tanpa jam Rolex dan berbagai aksesoris mewah sejenisnya, tanpa mobil berharga “M”. Akan lebih memikat lagi, kalau seluruh pendapatan mereka dari negara sebagai anggota Dewan masuk ke Baitul Maal, dan mereka digaji oleh Baitul Maal.

Kalau tidak bisa? Ya sudah, tahu diri saja, politikus itu ya cuma pekerja biasa yang profan. Tak perlu dicanteli predikat “pembela agama”. Bisa bekerja dengan baik, bersungguh-sungguh dan jujur itu sudah bagus. Menunjukkan prestasi kerja yang bagus insya Allah mengundang doa baik segenap rakyat. Tapi, urusan pahala dan ridha hanya Allah yang punya kuasa.

Berat, Mas Bro, predikat “membela agama” di jalan politik itu. Bayangkanlah Khalifah Abu Bakar As-Siddiq, r.a., yang tak lagi mengurusi niaga, cukup hidup dengan gaji dari Baitul Maal. Ketika isteri beliau meminta dibelikan manisan, dengan apa adanya beliau bilang tak punya cukup uang. Ketika isteri beliau akhirnya berhasil menyisihkan uang gaji, dan terkumpul cukup untuk membeli manisan, apa kata beliau? “Ternyata gaji kita lebih, ya. Kita kembalikan kelebihannya itu ke Baitul Maal.”

Wallahu a’lam bi al-shawab.