Puisi Visual

Nanti kalau sudah punya modal, punya staf, punya petugas, punya pengikut…., saya akan bikin aliran baru puisi: puisi visual. Sekarang cukup buat melepas suntuk saja.

 

Advertisements

Purnama Tembi Memulangkan Yudhistira Massardi

Sepasang tugu berwarna merah bata berdiri tegap di belakang arena teater mungil yang menghadap tribun berkapasitas seratusan penonton. Pagar teralis setinggi satu setengah-an meter yang bertumpu pada tembok bata memisahkannya dari hamparan sawah. Teater alam terbuka milik Rumah Budaya Tembi menjajakan sajian khas berselera… (upppps… koq jadi terbawa-bawa ke syair Katon Bagaskara???).

Maaf-maaf. Tapi, Tembi memang salah satu dari berjuta harta kebudayaan Yogyakarta. Tempatnya sekitar 15 kilometer dari pusat kota. Malam purnama sempurna Rabu 6 September lalu para pegiat sastra memadatinya. Tribun penuh, tapi syahdu, meyimak “Yudhistira ANM Massardi Kembali ke Yogya Membaca Sastra”.


PHOTO BY HALIDA WIBAWATY

Begitulah tema Sastra Bulan Purnama Tembi ke-72 yang menandai ulangtahunnya yang keenam. Ons Untoro, sang panglima hajatan bulanan itu, menuturkan tingginya gairah bersastra di sana. Dari berbagai kalangan. Yang belia dan yang sepuh. Menurut Ons, sastrawan Yogya yang (sebagaimana Yudhis) juga alumnus  Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi, mereka rela antre untuk bisa tampil membaca puisi atau musikalisasi puisi di acara yang sudah terjadwal setahun penuh.

Pulangnya Yudhistira Massardi setelah 50 tahun seperti refleksi dan dialog lintas generasi kesusastraan Yogyakarta. Dimulai sekitar pukul delapan malam, pembacaan karya-karya Yudhis dibuka dengan “Sebelum Pintu” dari buku puisi terbaru Yudhis, Perjalanan 63 Cinta, yang dibawakan Dita Yuliana Paramita.  Tahun ini Dita baru lulus kuliah dan sedang menanti saat penugasan sebagai abdi negara.

Sebelum Pintu

Sebelum pintu
Kau menciumku
Ada angin membuka
Kelopak mawar
Dekat jendela kamar

“Kamukah yang berbisik
Di telinga daun?”

Ah, sayangku
Pagi masih berkabut
Dedaun kering di rumput
Sinar matahari melukis embun
Dua ekor semut ngungun
Capung-capung bersenandung

“Apakah kita masih berbulan madu?”

***

Meski tetap menulis sajak sedikitnya satu setiap tahun untuk ulang tahun sang istri Siska Yudhistira Massardi dan perkawinan mereka, Yudhis belakangan lebih disibukkan oleh kegiatan sosial di bidang pendidikan. Mereka mengelola Sekolah Batutis Al-Ilmi, sekolah gratis untuk kaum dhuafa di Pekayon Bekasi.

Yudhis baru kembali melahirkan karya sastra pada tahun 2015, setelah absen lebih dari 20 tahun, dengan buku puisi 99 Sajak. Buku itu langsung menggebrak dengan meraih dua penghargaan sekaligus, sebagai buku puisi terbaik versi Yayasan Hari Puisi Indonesia dan Badan Bahasa. Tahun berikutnya, Kepustakan Populer Gramedia (KPG) kembali menerbitkan karya Yudhis, Perjalanan 63 Cinta, yang malam itu lebih memikat para penampil di Tembi.

Dari buku itu, Ninuk Nirawati dari generasi yang lebih senior dari Dita, membawakan “Sunyi Itu”. Vokalnya yang lembut dan kuat berhasil mengayun penonton menapaki lintasan diksi-diksi Yudhis yang segar, usil dan penuh kejutan. Ada pula “Presiden” Mari Membaca Puisi (MPP) Aly D Musyrifa yang sangat bernas membawakan “Siska” .

Dokter Halida Wibawaty, seorang ahli mata dari Surakarta yang supersibuk, turut antusias menyemarakkan arena teater Tembi. Ia mengaku sudah lama menjadi penikmat karya-karya Yudhis. Saat mendapat tawaran untuk tampil, ia segera mencari kedua buku puisi mutakhir Yudhis, dan menemukan masing-masing satu puisi dari kedua buku puisi itu yang “benar-benar klik di hati saya”: “Sajak Sembilan Rasa (6)” dan “Hujan Mawar”.

Syukurlah, jadwalnya pas. Malam itu Halida bisa tampil segar di Tembi setelah pulang dari dua lawatan ke luar negeri, Tokyo dan Melbourne.

Jarak generasi tak menghalangi para penampil untuk lancar menyuguhkan tafsir vokal yang memesonakan atas karya-karya Yudhis. Jauh sebelum Dita lahir sebagai generasi milennial, Yudhis sudah menyeruak dengan buku kumpulan puisi fenomenal Sajak Sikat Gigi, yang terpilih menjadi buku puisi terbaik 1977 dari Dewan Kesenian Jakarta. Meniti untaian kata Yudhis yang –meskipun tak senakal era 70 dan 80-an– tetap usil, para penampil sukses meletupkan dentuman-dentuman vokal yang pas pada tiap tikungan diksinya.”

….
Angin pun tertidur di genting
Hingga hujan menggelantung

“Kenapa harus ada jarak antara kota?” katamu

Ya, sayangku
Karena sunyi tak ada di peta!
“Sunyi”, Perjalanan 63 Cinta.

***

Sastra Bulan Puranama Tembi malam itu tentu saja menjadi ajang reuni dan napak tilas bagi Yudhis. Sutirman Eka Ardhana, teman seangkatan di Yogya, hadir dan tampil membawakan “Biarin” dari buku Sajak Sikat Gigi.  Selain itu, Yudhis juga tiba-tiba terbawa kepada kenangan bersama salah satu sahabat baiknya, mendiang Franky Sahilatua. Rinawan Ardono atau lebih dikenal dengan sapaan Donas menyuguhkan tafsir nada yang memukau atas Hujan Mawar. Donas adalah  pemusik yang mengerjakan beberapa album terakhir Franky. Sedangkan Yudhis adalah penulis lirik lagu-lagu pada enam album awal Franky.

Yudhis mengaku sangat bersuka cita dengan keragaman warna tafsir-tafsir vokal dan nada yang malam itu hadir di Tembi. Sebelum membaca Sajak Sembilan Rasa dan beberapa puisi dari Perjalanan 63 Cinta, Yudhis mengajak penonton berkelana ke masa silam. “Si Mbah mau mendongeng,” katanya.

Datang di Yogya tahun 1967 sebagai murid SMP Taman Dewasa di Jalan AM Sangaji, Yudhis mengaku sangat beruntung berada di tahun-tahun yang luar biasa. Dengan status anak yang masih “bercelana pendek”, Yudhis mengaku beruntung bisa bertemu, bergaul dan berguru pada begitu banyak tokoh dan calon tokoh nasional. Tak perlu disebutkan satu-satu di sini, karena mereka sangat terkenal pakai banget.

Dari mereka dan dari Yogyakarta yang luar biasa itu, Yudhis mengasah ketajaman berkesusastraan dan keterampilan merekam kehidupan dalam endapan makna yang sarat. Di Tembi, Yudhis pulang membacakan catatan-catatannya. Olah vokalnya yang tetap prima seperti menyuguhkan drama di bawah purnama.

3 (Sajak Sembilan Rasa)

Banjir lagi?
Ya, ya, ya, banjir lagi
Cuma bandang yang ke luar batasan
Karena sungai menciut
Karena sampah ketinggalan truk
Karena rumah-rumah mengerami penduduk

“Yang bisa banjir cuma air
Emang mau jadi apa lagi?”

Segala yang kotor girang berenang
Mereka berenang di ruang tamu
Mereka masuk ke kamar gadis-gadis
Mereka mencuri makanan di dapur-dapur
Mereka juga naik ke atap-atap
Seperti tikus got beli apartemen!

Emang mau main layang-layang juga?
“So, what? Sudah tradisi, mas bro!”
***

Malam itu para penonton di Tembi juga  khusyuk menikmati sebagian dari 100 puisi terbaru Yudhis yang akan segera terbit dalam buku puisi Luka Cinta Jakarta. Selesai acara, seorang pegiat teater Yogya menghampirinya, meminta print-out puisi-puisi terbaru yang dibacakan itu.

Puisi-puisi itu sebetulnya khusus untuk Jakarta.  Ah, tapi dalam bingkai catatan kehidupan Yudhis, Jakarta dan Yogyakarta itu memang dekat. Sedekat kenangan dari generasi ke generasi. Jadi, harap dicatat pula, di Yogkarta bukan waktu bergerak melambat. Itu mungkin lebih karena efek kenangan yang memuai.

Dzulhijjah Bulan Yudisium Akhir Tahun

Dzulhijjah adalah bulan penghabisan dalam kalender hijriyah. Jika hidup adalah perniagaan, niscaya manusia pebisnis di bulan ini melakukan penghitungan teliti, mengevaluasi diri. Sehingga, didapatlah pijakan yang baik untuk menyusun rencana peningkatan di tahun baru.

Umumnya, pebisnis ulung tidak menyukai sesuatu yang rutin dan biasa-biasa saja. Ia selalu tekun mengasah kreativitas, mengendus peluang baru, dan mengurai setiap sumber masalah. Karenanya, pebisnis yang tangguh tidak pernah anteng dalam semata-mata zona kenyamanan laba maunpun sebaliknya nyungsep meringkuk dalam tindihan rugi. Bisnis adalah jalan hidup bagi mereka.

Untuk semua ketangguhan dan keteguhan itu, para pebisnis sejati mendapatkan tempaan dari beragam pengalaman dan pelajaran. Terkadang pelajaran didapat dari ikhtiar dengan niat, perencanaan dan kesadaran. Tapi, tak jarang pula seorang pebisnis naik derajat mendaki sejengkal demi sejengkal dari jalan terjal panjang kesalahan-kesalahan yang harus dilalui tanpa ada pilihan lain.

Mengapa? Karena memang tidak tersedia jalan lain baginya menemukan pelajaran, selain mencoba, berusaha dan membentur kekeliruan (trial-and-error). Tidak ada jalan lain karena dia hanya punya satu pilihan: bergerak untuk bertahan.

Dari manapun pelajaran didapat, pebisnis ulung adalah amtsal kehidupan yang sejati. Sebab, pebisnis ulung mewujudkan pelajaran menjadi laku kehidupan nyata. Pebisnis ulung tidak sama dengan pelajar yang tekun menjaring ijazah demi ijazah sampai sekolah tinggi, lalu mengandalkan hidupnya pada tanda-tanda kelulusan itu. Ilmu yang dipelajarinya sepanjang masa bersekolah sudah diekstrak menjadi label-label angka-angka. Maka, keahlian dan keterampilan untuk kehidupan baru akan mulai dipelajari setelah lulus.

Jika kita memilih jalan pebisnis ulung, bukan pelajar pemburu ijazah, maka seseungguhnya amatlah besar rangkaian pelajaran kehidupan yang baru kita lalui tiga bulan sebelum Dzulhijjah. Dimulai dengan bulan Ramadhan, kita diajak melakukan overhaul fisik-mental selama sebulan penuh.

Dari segi fisik, tubuh kita dibersihkan dari asupan-asupan yang tidak baik maupun asupan-asupan baik yang berlebihan selama delapan atau bahkan sebelas bulan sebelumnya. Banyak yang menambah pembersihan itu dengan puasa Syawal, puasa Tasyrik atau puasa-puasa sunah lainnya. Jika berhasil, berarti kita sebetulnya berhasil membebaskan diri dari penguasaan hawa nafsu material ragawi.

Dari segi mental, dengan jumlah raka’at bertambah banyak dengan shalat-shalat tarawih di malam hari, maka mestinya semakin terlatih pula shalat kita dalam kehidupan nyata. Sekurang-kurangnya, kita memiliki daya juang yang lebih kuat dalam menghadapi bermacam-macam tantangan, karena kita mampu bekerja dalam keadaan lapar dan dahaga.

Kita pun seyogyanya semakin terlatih membawa misi kasih sayang dengan semakin seringnya kita lantunkan ikrar Bismillahirrahmanirrahim. Kita menjadi lebih peka dan lebih peduli pada sesama manusia yang kekurangan, baik karena merasakan lapar dan dahaga maupun karena keringanan hati untuk melakukan zakat dan sedekah.

Lalu, ibadah haji, baik bagi hamba yang telah mentdapat kehormatan menjadi tamu-Nya di  Haramain maupun yang belum, adalah pelajaran kehidupan besar yang dinukilkan dari keteladanan keluarga kekasih Allah, Nabiyullah Ibrahim as. Sebab, setiap manusia yang ingin hidup sukses pertama-tama harus mengenali diri dan tujuan hidupnya (wuquf di Arafah); berthawaf dalam garis edar kehidupan yang teratur; berjibaku sa’i tanpa kenal putus asa mencari rizki-Nya; dan selalu membersihkan dan membuang kekuatan buruk dalam jiwa.

Dan terakhir, dengan rangkaian penempaan mental itu, puncaknya adalah kemampua menyembelih kekuasaan hawa nafsu material atas hati, akal dan jiwa.

Semoga kita termasuk manusia yang meraih yudisium berkualitas di bulan Dzulhijjah ini, dan siap memasuki tahun baru hijriyah dengan bekal yang baik. Allah al-Musta’an.

Ketika Akal Budi Menjadi Ruang Hampa

Lagi. Pejabat tinggi ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kali ini Direktur Jenderal Hubungan Laut, Kementerian Perhubungan. Kenikmatan apa lagi yang membayang dalam perburuan yang menjerumuskan seorang pejabat dengan pangkat setinggi itu?

Dalam terminologi birokrasi, Direktur Jenderal, atau Director General, adalah pangkat tertinggi. Tak ada lagi tangga karier di atasnya kecuali keberuntungan politik membawa seseorang ke kursi menteri atau presiden. Tapi, hawa nafsu selalu menyediakan tangga tak terbatas. Dengan hawa nafsu, batas-batas menjadi kosong dan akal budi (af’idah) menjadi ruang hampa.

Dalam keadaan seperti itu, akal budi sudah bukan lagi subjek aktif, melainkan predikat benda atau materi. Ia tidak lagi bergerak atau menggerakkan, tapi berada di manapun, mengikuti benda atau materi. Ia digerakkan, walau tampak berkuasa. Dengan kata lain, ia adalah beban bagi alam semesta, bukan pembawa manfaat, apalagi penyampai rahmat.

Maka bayangkan jauhnya derajat nista seseorang yang dikuasai hawa nafsu dengan derajat tinggi sehelai daun mungil yang bertasbih dalam peran kehidupan yang istiqamah sampai akhir masa tugasnya. Tasbihnya membawa manfaat dan rahmat bagi alam semesta.

Hawa nafsu adalah hijab, pemisah antara kesadaran diri dan tujuan hidup. Seseorang yang dikuasai hawa nafsu bukan tidak berpengetahuan, juga bukan tidak beragama. Pengetahuannya tidak hilang. Pun, ia sangat mungkin religius. Tapi, hawa nafsu melebur pengetahuan dan ritual agama menjadi kekosongan dalam ruang hampa.

Bagiku, tragedi Dirjen Hubla adalah warning betapa berat mengendalikan diri, mengendalikan hawa nafsu. Butuh latihan terus menerus dengan ikrar penyadaran setiap saat untuk tetap berada pada garis tujuan hidup, untuk tetap berada dalam garis Syahadat. Semakin jelas bagiku bahwa Syahadat adalah rukun kehidupan yang kubutuhkan tidak semata-mata sebagai akad lisan di permulaan.

Syahadat adalah pemandu utama pada setiap jengkal perjalanan. Jika Syahadat-ku hampa, maka shalatku pun hanya gerak-gerik ritual tanpa makna. Puasaku hanya berbuah lapar dan dahaga. Zakatku sekadar keresahan pada materi yang berkurang sebagian. Aku tak akan pernah sampai pada padang pemahaman sejati (‘arafah), apalagi beroleh zam-zam maslahat bagi dari dan orang lain. Na’udzu billah.

Ya Muqallib al-qulub, tsabbit qalby ‘ala dinik.

Lampu Kenangan

Buritan kapal lepas dari sandaran di pelabuhan. Perlahan aku menjauh dibawa umurku, meninggalkanmu dengan perasaan berdebar-debar. Dada bergemuruh rapuh seperti kumpulan buih-buih di bekas perlintasan.

Cukupkah bekal yang kubawa darimu? Bahkan, aku harus bertanya adakah sesungguhnya yang dapat kubawa darimu? Di depan, setiap hari adalah satuan samudera dengan kedalaman yang baru, gelombang yang baru, dan kehidupan yang baru.

Bagaimana mungkin aku dapat nyenyak dalam ketidakpastian, kecuali aku tertidur? Tidur, tidur, tidur, lupa…. bahwa aku pernah berkata merindukanmu. Rindu seperti kelap-kelip lampu kenangan yang timbul tenggelam, berharap nanti berjumpa lagi. Membasuh daki, melebur dosa, menyeka nafsu… terus dan selalu begitu.

Ya Ramadhan, aku berlayar hanya dengan kelap-kelip lampu kenangan yang timbul tenggelam, dan dengan hati yang rawan.

Buku Sangat Lama dalam Citarasa Abad Digital

Gambar di atas adalah foto cover buku How to Really Love Your Child, karya D. Ross Campbell, MD. Tapi coba perhatikan, di samping kiri kanan gambar buku itu ada kursor. Ya kursor itu adalah tombol untuk membalik halaman demi halaman.

Saya agak bingung mau menceritakan yang mana terlebih dahulu: isi bukunya atau betapa nikmatnya cara saya membaca berkat teknologi abad digital. OK, karena isi buku yang sudah ditulis terlebih dulu di paragraf ini, ya sudah saya mulai dari tentang isi bukunya.

Buku ini adalah buku lama, bahkan sangat lama, diterbitkan pertama kali saat saya baru kelas III SD, tahun 1977. Tapi, buku ini diterbitkan lagi pada tahun 2003 dan cover yang terlihat dalam foto ini adalah edisi 2003. Buku ini berisi pelajaran-pelajaran kehidupan yang dihimpun dari pengalaman Campbell selama praktik menjadi psikiater.

Buku ini memang ditulis dari latar belakang kehidupan masyarakat Amerika Serikat di era 70-an. Tapi, saya merasa seperti membaca situasi yang sangat dekat dengan masa ketika saya sudah menjadi seorang ayah. Ya, masa kini, abad teknologi informasi digital saat ini!

Buku ini diawali dengan kisah sepasang suami isteri yang sangat menyayangi, sangat mencintai putranya, Tom. Menurut Campbell, dari cara bicara dan bahasa tubuh pasangan itu, kedua orangtua Tom adalah orang yang penuh cinta (juga pemeluk agama yang taat). Tapi, mereka sampai di ruang konsultasi Campbell karena tak berdaya menghadapi sebuah masalah yang musykil, aneh dan tak terbayangkan bagi mereka.

Mengapa Tom si anak manis, penurut, sopan dan dilimpahi cinta orangtua tiba-tiba tumbuh menjadi remaja lepas kendali. Ia runtang-runtung dengan geng berandalan, ke sana kemari bikin onar. Dan, dalam pengakuannya kepada Campbell, Tom ternyata merasa tidak dicintai kedua orangtuanya!

Uraian-uraian saintifik Campbell dalam buku kecil ini (hanya 181 halaman dengan ukuran lebih kecil dari A5) sangat istimewa buat saya, sebagai bahan tulisan-tulisan di blog Peduli Pendidikan Usia Dini. Keistimewaan utamanya karena buku ini membuat saya semakin terperangah betapa banyak lagi buku yang harus saya baca. Keistimewaan kedua (ini subjektif) gaya bahasa popularnya memikat selera saya.

Sementara itu yang bisa saya ceritakan tentang isi bukunya.

Tapi, ada satu hal lagi menyenangkan (seperti saya singgung di bagian awal, buku ini bisa saya baca dengan produk teknologi digital. Sebuah app yang dapat diunduh gratis bisa menyajikan sebuah buku PDF laksana buku nyata dengan sensasi bunyi “kresek” seperti menyibak halaman demi halaman kertas.

Mungkin suatu saat nanti saya akan menulis buku untuk diunduh dan dinikmati gratis pembaca dengan cara seperti ini. Tapi, mmmm…. harus nunggu blog saya banyak tamu, kayaknya. Saya tanyakan dulu kepada para tamu, apakah buku yang ingin saya tulis penting untuk ditulis atau tidak ada gunanya. Mudah-mudahan terwujud.

Blog Pendidikan Anak Usia Dini

Blog pribadi ini sudah empat tahunan “melayani” saya dalam mengeluarkan berbagai macam uneg-uneg, termasuk dalam isu pendidikan. Saya memang sesekali menulis opini tentang pendidikan di media massa seperti Koran Temppo, The Jakarta Post dan website opini Geotimes.com. Namun, tentu saja, tak semua hal yang terbersit dalam pikiran bisa terakomodasi dalam artikel opini semacam itu. Apalagi, terutama untuk media cetak, ruangnya pasti terbatas. Dalam hal seperti itu, biasanya limpahan ide saya coba tuangkan dalam blog ini.

Selain itu, dengan menulis di blog pribadi, bahasa yang saya gunakan bisa sangat informal, yang tidak mungkin sesuai dengan media massa formal. Juga, blog pribadi ini saya gunakan untuk menulis hal-hal lain di luar isu pendidikan, seperti isu politik kontemporer, sesekali coretan-coretan ekspresi dalam bentuk sajak, dan apa saja yang menurut perasaan saya perlu ditumpahkan menjadi tulisan.

Nah, untuk isu pendidikan, ada kategori yang sangat saya sukai yaitu pendidikan anak usia dini. Sangat saya sukai sehingga buku pertama saya di bidang pendidikan adalah tentang pendidikan anak usia dini, yakni tentang pentingnya membangun kemampuan berbahasa anak usia dini sebagai bekal dasar kehidupan.

Kategori pendidikan anak usia dini memiliki cakupan yang sangat luas dan rasa-rasanya tidak mungkin bisa sering-sering dimuat di media massa. Namun, kalau ada yang dinamakan revolusi pendidikan, maka menurut hemat saya, pendidikan anak usia dini-lah domainnya. Karena itu, saya merasa terus terdorong untuk menulis tentang pendidikan anak usia dini.

Maka, saya pun memisahkan kategori pendidikan anak usia dini di blog lain. Ternyata saya sudah pernah membuat blog tentang pendidikan anak usia dini sekitar dua tahun lalu, tapi belum pernah saya isi artikel. Ya sudah, akhirnya sejak beberapa hari lalu, saya mulai aktifkan blog tersebut. Namanya, Peduli Pendidikan Anak Usia dini. Di blog ini, saya berusaha sedapat mungkin menyertakan infografis pada setiap tulisan. Mengapa? Karena kalau sudah mulai menulis, mentang-mentang tidak ada batasan space untuk tulisan di blog, saya suka “terbawa arus” sampai tulisan menjadi sangat panjang. Maka, supaya halamannya tidak terlihat kriting dengan huruf-huruf saja (wordy), infografis sepertinya bisa menjadi semacam kompromi. Juga, mudah-mudahan, dengan infografis, ide yang saya tuangkan dalam tulisan menjadi lebih mudah dicerna

Selain isu pendidikan, saya juga berusaha menuangkan pengalaman saya dalam dunia tulis-menulis dengan membuat blog baru, Mitra Kreativa. Blog ini sebetulnya saya ingin lebih informal dan lebih santai, tapi ternyata saya masih perlu sering latihan agar tulisan-tulisan saya menjadi lebih segar, tidak bikin pembacanya berkerut kening.

Blog ini juga saya coba jadikan sebagai sarana menuangkan hasrat terpendam untuk menghasilkan karya fiksi. Sewaktu SMA dan kuliah dulu memang saya pernah mencoba menulis cerita pendek, dan sudah coba mengirimkannya ke media massa. Tapi, belum pernah ada yang “lulus”. Dan sejak bekerja menjadi wartawan tahun 1993, hasrat menulis karya fiksi semakin terpendam. Meskipun begitu, saya tetap suka membaca karya fiksi, baik terjemahan maupun lokal, dan beberapa kali menerjemahkan novel, yakni Mr. China (Tim Clissold), Shashenka (Simon Sebag Montefiore), Tiga Dara Berhati Baja (Ruthanne Lum McCunnAnn), dan Kota Kaum Cadar (Zoe Ferraris). Kecuali Tiga Dara Berhati Baja, novel-novel itu masih bisa dipesan lewat saya.

Satu lagi, dalam menuruti hobi saya yang berurusan dengan Bahasa Inggris (ternyata saya dulu pernah kuliah di jurusan Bahasa Inggris), terkadang muncul uneg-uneg tentang belajar Bahasa Inggris. Dari pada uneg-unegnya tersimpan dalam hati, ya sudah saya pun membuat blog lain. Namanya English Reading Enthusiasts. Kenapa reading? Sebab, (ini salah satu uneg-uneg saya), sebetulnya banyak membaca buku atau artikel berbahasa Inggris adalah jalan tol untuk memperbaiki kemampuan berbahasa Inggris.


Dari banyak membaca, kita mendapatkan contoh bahasa Inggris dalam pemakaian “premium”. Pada saat yang sama, kita dapat memperkuat citarasa tatabahasa kita dalam Bahasa Inggris. Juga, dengan banyak membaca “bahasa Inggris asli”, dan bukan bahasa Indonesia yang di-Inggriskan seperti yang terkadang muncul dalam matapelajaran Bahasa Inggris, kita pun berpeluang ketularan untuk berbahasa Inggris asli.

Oh, ya, mohon dimaklumi, tampilan semua blog baru saya masih berantakan bin awut-awutan. Soalnya, saya hanya pakai begitu saja theme atau template gratisan yang sepertinya bagus, tapi saya belum punya ilmunya untuk mengutak-atik sesuai keinginan. Jadi, untuk sementara mohon dimaklumi dulu, kapan-kapan kalau sudah ada yang mengajari saya ilmu kanuragan blog, saya akan coba perbaiki tampilannya.

Mudah-mudahan blog-blog baru saya bermanfaat. Blog yang ini akan tetap saya gunakan untuk menulis hal-hal yang bersifat renungan pribadi (tadarus) dan isu lain-lain.

Salam