Lampu Kenangan

Buritan kapal lepas dari sandaran di pelabuhan. Perlahan aku menjauh dibawa umurku, meninggalkanmu dengan perasaan berdebar-debar. Dada bergemuruh rapuh seperti kumpulan buih-buih di bekas perlintasan.

Cukupkah bekal yang kubawa darimu? Bahkan, aku harus bertanya adakah sesungguhnya yang dapat kubawa darimu? Di depan, setiap hari adalah satuan samudera dengan kedalaman yang baru, gelombang yang baru, dan kehidupan yang baru.

Bagaimana mungkin aku dapat nyenyak dalam ketidakpastian, kecuali aku tertidur? Tidur, tidur, tidur, lupa…. bahwa aku pernah berkata merindukanmu. Rindu seperti kelap-kelip lampu kenangan yang timbul tenggelam, berharap nanti berjumpa lagi. Membasuh daki, melebur dosa, menyeka nafsu… terus dan selalu begitu.

Ya Ramadhan, aku berlayar hanya dengan kelap-kelip lampu kenangan yang timbul tenggelam, dan dengan hati yang rawan.

Advertisements

Buku Sangat Lama dalam Citarasa Abad Digital

Gambar di atas adalah foto cover buku How to Really Love Your Child, karya D. Ross Campbell, MD. Tapi coba perhatikan, di samping kiri kanan gambar buku itu ada kursor. Ya kursor itu adalah tombol untuk membalik halaman demi halaman.

Saya agak bingung mau menceritakan yang mana terlebih dahulu: isi bukunya atau betapa nikmatnya cara saya membaca berkat teknologi abad digital. OK, karena isi buku yang sudah ditulis terlebih dulu di paragraf ini, ya sudah saya mulai dari tentang isi bukunya.

Buku ini adalah buku lama, bahkan sangat lama, diterbitkan pertama kali saat saya baru kelas III SD, tahun 1977. Tapi, buku ini diterbitkan lagi pada tahun 2003 dan cover yang terlihat dalam foto ini adalah edisi 2003. Buku ini berisi pelajaran-pelajaran kehidupan yang dihimpun dari pengalaman Campbell selama praktik menjadi psikiater.

Buku ini memang ditulis dari latar belakang kehidupan masyarakat Amerika Serikat di era 70-an. Tapi, saya merasa seperti membaca situasi yang sangat dekat dengan masa ketika saya sudah menjadi seorang ayah. Ya, masa kini, abad teknologi informasi digital saat ini!

Buku ini diawali dengan kisah sepasang suami isteri yang sangat menyayangi, sangat mencintai putranya, Tom. Menurut Campbell, dari cara bicara dan bahasa tubuh pasangan itu, kedua orangtua Tom adalah orang yang penuh cinta (juga pemeluk agama yang taat). Tapi, mereka sampai di ruang konsultasi Campbell karena tak berdaya menghadapi sebuah masalah yang musykil, aneh dan tak terbayangkan bagi mereka.

Mengapa Tom si anak manis, penurut, sopan dan dilimpahi cinta orangtua tiba-tiba tumbuh menjadi remaja lepas kendali. Ia runtang-runtung dengan geng berandalan, ke sana kemari bikin onar. Dan, dalam pengakuannya kepada Campbell, Tom ternyata merasa tidak dicintai kedua orangtuanya!

Uraian-uraian saintifik Campbell dalam buku kecil ini (hanya 181 halaman dengan ukuran lebih kecil dari A5) sangat istimewa buat saya, sebagai bahan tulisan-tulisan di blog Peduli Pendidikan Usia Dini. Keistimewaan utamanya karena buku ini membuat saya semakin terperangah betapa banyak lagi buku yang harus saya baca. Keistimewaan kedua (ini subjektif) gaya bahasa popularnya memikat selera saya.

Sementara itu yang bisa saya ceritakan tentang isi bukunya.

Tapi, ada satu hal lagi menyenangkan (seperti saya singgung di bagian awal, buku ini bisa saya baca dengan produk teknologi digital. Sebuah app yang dapat diunduh gratis bisa menyajikan sebuah buku PDF laksana buku nyata dengan sensasi bunyi “kresek” seperti menyibak halaman demi halaman kertas.

Mungkin suatu saat nanti saya akan menulis buku untuk diunduh dan dinikmati gratis pembaca dengan cara seperti ini. Tapi, mmmm…. harus nunggu blog saya banyak tamu, kayaknya. Saya tanyakan dulu kepada para tamu, apakah buku yang ingin saya tulis penting untuk ditulis atau tidak ada gunanya. Mudah-mudahan terwujud.

Blog Pendidikan Anak Usia Dini

Blog pribadi ini sudah empat tahunan “melayani” saya dalam mengeluarkan berbagai macam uneg-uneg, termasuk dalam isu pendidikan. Saya memang sesekali menulis opini tentang pendidikan di media massa seperti Koran Temppo, The Jakarta Post dan website opini Geotimes.com. Namun, tentu saja, tak semua hal yang terbersit dalam pikiran bisa terakomodasi dalam artikel opini semacam itu. Apalagi, terutama untuk media cetak, ruangnya pasti terbatas. Dalam hal seperti itu, biasanya limpahan ide saya coba tuangkan dalam blog ini.

Selain itu, dengan menulis di blog pribadi, bahasa yang saya gunakan bisa sangat informal, yang tidak mungkin sesuai dengan media massa formal. Juga, blog pribadi ini saya gunakan untuk menulis hal-hal lain di luar isu pendidikan, seperti isu politik kontemporer, sesekali coretan-coretan ekspresi dalam bentuk sajak, dan apa saja yang menurut perasaan saya perlu ditumpahkan menjadi tulisan.

Nah, untuk isu pendidikan, ada kategori yang sangat saya sukai yaitu pendidikan anak usia dini. Sangat saya sukai sehingga buku pertama saya di bidang pendidikan adalah tentang pendidikan anak usia dini, yakni tentang pentingnya membangun kemampuan berbahasa anak usia dini sebagai bekal dasar kehidupan.

Kategori pendidikan anak usia dini memiliki cakupan yang sangat luas dan rasa-rasanya tidak mungkin bisa sering-sering dimuat di media massa. Namun, kalau ada yang dinamakan revolusi pendidikan, maka menurut hemat saya, pendidikan anak usia dini-lah domainnya. Karena itu, saya merasa terus terdorong untuk menulis tentang pendidikan anak usia dini.

Maka, saya pun memisahkan kategori pendidikan anak usia dini di blog lain. Ternyata saya sudah pernah membuat blog tentang pendidikan anak usia dini sekitar dua tahun lalu, tapi belum pernah saya isi artikel. Ya sudah, akhirnya sejak beberapa hari lalu, saya mulai aktifkan blog tersebut. Namanya, Peduli Pendidikan Anak Usia dini. Di blog ini, saya berusaha sedapat mungkin menyertakan infografis pada setiap tulisan. Mengapa? Karena kalau sudah mulai menulis, mentang-mentang tidak ada batasan space untuk tulisan di blog, saya suka “terbawa arus” sampai tulisan menjadi sangat panjang. Maka, supaya halamannya tidak terlihat kriting dengan huruf-huruf saja (wordy), infografis sepertinya bisa menjadi semacam kompromi. Juga, mudah-mudahan, dengan infografis, ide yang saya tuangkan dalam tulisan menjadi lebih mudah dicerna

Selain isu pendidikan, saya juga berusaha menuangkan pengalaman saya dalam dunia tulis-menulis dengan membuat blog baru, Mitra Kreativa. Blog ini sebetulnya saya ingin lebih informal dan lebih santai, tapi ternyata saya masih perlu sering latihan agar tulisan-tulisan saya menjadi lebih segar, tidak bikin pembacanya berkerut kening.

Blog ini juga saya coba jadikan sebagai sarana menuangkan hasrat terpendam untuk menghasilkan karya fiksi. Sewaktu SMA dan kuliah dulu memang saya pernah mencoba menulis cerita pendek, dan sudah coba mengirimkannya ke media massa. Tapi, belum pernah ada yang “lulus”. Dan sejak bekerja menjadi wartawan tahun 1993, hasrat menulis karya fiksi semakin terpendam. Meskipun begitu, saya tetap suka membaca karya fiksi, baik terjemahan maupun lokal, dan beberapa kali menerjemahkan novel, yakni Mr. China (Tim Clissold), Shashenka (Simon Sebag Montefiore), Tiga Dara Berhati Baja (Ruthanne Lum McCunnAnn), dan Kota Kaum Cadar (Zoe Ferraris). Kecuali Tiga Dara Berhati Baja, novel-novel itu masih bisa dipesan lewat saya.

Satu lagi, dalam menuruti hobi saya yang berurusan dengan Bahasa Inggris (ternyata saya dulu pernah kuliah di jurusan Bahasa Inggris), terkadang muncul uneg-uneg tentang belajar Bahasa Inggris. Dari pada uneg-unegnya tersimpan dalam hati, ya sudah saya pun membuat blog lain. Namanya English Reading Enthusiasts. Kenapa reading? Sebab, (ini salah satu uneg-uneg saya), sebetulnya banyak membaca buku atau artikel berbahasa Inggris adalah jalan tol untuk memperbaiki kemampuan berbahasa Inggris.


Dari banyak membaca, kita mendapatkan contoh bahasa Inggris dalam pemakaian “premium”. Pada saat yang sama, kita dapat memperkuat citarasa tatabahasa kita dalam Bahasa Inggris. Juga, dengan banyak membaca “bahasa Inggris asli”, dan bukan bahasa Indonesia yang di-Inggriskan seperti yang terkadang muncul dalam matapelajaran Bahasa Inggris, kita pun berpeluang ketularan untuk berbahasa Inggris asli.

Oh, ya, mohon dimaklumi, tampilan semua blog baru saya masih berantakan bin awut-awutan. Soalnya, saya hanya pakai begitu saja theme atau template gratisan yang sepertinya bagus, tapi saya belum punya ilmunya untuk mengutak-atik sesuai keinginan. Jadi, untuk sementara mohon dimaklumi dulu, kapan-kapan kalau sudah ada yang mengajari saya ilmu kanuragan blog, saya akan coba perbaiki tampilannya.

Mudah-mudahan blog-blog baru saya bermanfaat. Blog yang ini akan tetap saya gunakan untuk menulis hal-hal yang bersifat renungan pribadi (tadarus) dan isu lain-lain.

Salam

Ujian yang Berat

Pada setiap momen yang membahagiakan, lidah hampir-hampir bergerak otomatis untuk melafalkan kalimat pujian kepada Allah swt, Dzat Yang Maha Berkehendak atas segala yang terjadi pada setiap makhluk ciptaan-Nya, dan karena itu yang berhak atas segala pujian. Kalimat hamdalah dilatihkan setiap hari, pagi-siang-malam.

Namun, ternyata menggenapkan sekujur raga, hati dan akal pikiran untuk total selaras dengan ucapan lidah tidaklah mudah. Lidah melafalkan pujian kepada Allah swt, tapi hati kerap kesulitan menyingkirkan rasa diri pantas mencapai kebahagiaan. Akal sempoyongan melawan rasa mampu meraih kebahagiaan. Dada berdegup dipacu rasa diri hebat. Hidung mengembang ditiup rasa “inilah aku!” Telinga pun kepanasan bila diterpa suara yang menyepelekan. Dan semua itu jelas tidak sejalan dengan ucapan pujian lidah yang otomatis.

Maka, benarlah kesenangan, kebahagiaan, keberhasilan sejatinya adalah ujian yang tak kalah beratnya dengan kesedihan, kemalangan dan penderitaan. Ujian yang mudah menggelincirkan manusia dari kesadaran atas apa yang dengan lancar dapat diucapkan oleh lidah. Ujian yang rawan menjerumuskan manusia pada jerat belenggu kesombongan.

Sungguh mulialah hamba-hamba Allah yang mampu mencapai puncak kebahagiaan bersyukur dengan membebaskan diri dari belenggu kesombongan. Merekalah orang-orang yang menemukan kebahagiaan sejati. Ya Allah sampaikanlah usiaku ke bulan Ramadhan. Bimbinglah aku menapak jejak hamba-hambaMu yang berhasil, bukan jalan sesat yang Engkau murkai. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Politikus Membela Agama, Mungkinkah?

Tulisan ini saya tempatkan dalam kategori “Tadarus”, yang berarti renungan yang bersifat subjektif-personal. Tiba-tiba saja terbersit dalam pikiran saya, berandai-andai kalau saya menjadi seorang politikus. Hanya sebatas berandai-andai, karena saya merasakan sekujur pribadi dan pengalaman saya tak punya potongan, apalagi bakat, menjadi politikus. Pun, dalam pergaulan, sampai saat ini saya belum punya teman dekat seorang politikus. Teman dekat itu bisa berarti teman sekolah, teman sekantor, teman sekampung, atau sekurang-kurangnya saat ini saya punya keleluasaan untuk berkomunikasi dengan orang seperti itu. Tidak ada.

OK, kenapa saya memilih topik “membela agama”? Ya, terus terang, hiruk-pikuk politik yang begitu turbulent sejak Pemilihan Presiden 2014, ditambah Pilkada DKI 2017, memapar saya dengan isu agama, dengan intensitas yang sangat-sangat besar. Mungkin tak berlebihan kalau saya katakan kedua event politik itu membawa gemuruh isu agama yang paling besar sepanjang sejarah politik di Indonesia.

Mungkin pakar politik bisa membangun argumentasi rasional bahwa gemuruh isu agama itu hanya semacam kewajaran, atau bahkan keniscayaan. Tapi, sebagai bukan siapa-siapa selain “fulan bin awam” dalam urusan politik, yang saya lihat adalah banyak ekses negatif, walau tidak semua berimbas langsung ke saya sebagai pribadi. Misalnya, banyak energi tersedot untuk perdebatan muter-muter, perselisihan pendapat tanpa ujung, bahkan pertengkaran dan permusuhan (dalam lingkup pertemanan dan keluarga). Sebegitu mahalkah pertaruhannya?

Pertanyaan itulah titik pijakan untuk judul tulisan yang saya pilih. Segala hiruk pikuk ini bisa dikerucutkan menjadi sebuah proposisi bahwa ada sebuah arus besar yang menempatkan agama begitu tegas, begitu formal, begitu saklek, begitu rigid di belakang satu pilihan politik tunggal. Arus itu memaklumkan garis tegas kepada khalayak pemilih, sangat mirip dengan ungkapan terkenal Presiden Amerika Serikat George W. Bush di awal milennium sebelum menggelar perang di Irak: “Either you’re with us, or against us.” (Saat itu, Bush bahkan secara harfiah menyetarakan tawarannya itu dengan jargon “Crusade” atau Perang Salib).

Bisa dikatakan, gemuruh isu agama di Pilpres 2014 dan Pilkada DKI 2017 adalah fenomena yang belum ada presedennya di Indonesia. Di zaman Orde Lama, memang pernah terjadi Kongres Umat Islam. Tapi faktanya, politik Islam tersalur alamiah ke lebih dari satu aliran. Ada Masyumi, ada NU, ada sosialis Islam, dan tentu saja nasionalis. Ketika patron hegemoni Orde Baru runtuh di tahun 1998, ada peluang lagi dan bahkan sudah ada upaya “menunggalkan” kembali politik Islam. Faktanya, upaya itu bukan hanya gagal, tapi para politikus senior Islam sampai akar rumut pun sangat nyaman memegang bendera masing-masing: PKB, PKS, PAN, PPP, PBB, dan sederet partai-partai mungil. Yang di Golkar dan PDIP pun bejibun.

OK, mungkin tidak sopan kalau menggugat para politikus Islam pasca Orde Baru ketika itu, kenapa mereka belum mengerti bagaimana caranya bersatu. Tapi, sebaliknya tentu boleh, dong, memaknai pilihan-pilihan bendera itu adalah pilihan politik biasa-biasa saja. Pilihan politik yang sah, pilihan firqah yang OK, pilihan tha’ifah yang lumrah, pilihan jam’iyat yang acceptable untuk membangun negara. Yang penting, akhlak bagus, integritas kokoh, prinsip-prinsip religiusitas dijalankan… dan seterusnya. Lho, kenapa sekarang tiba-tiba pemilih diancam label keluar shaf ketika punya pandangan yang baik untuk negara, yang kebetulan berbeda bendera?

Ada yang mengatakan Pilpres 2014 dan Pilkada DKI 2017 adalah momentum suci penyatuan umat Islam yang tak boleh disia-siakan. Saatnya umat bersatu, begitu katanya. Bersatu dengan apa? Dengan koalisi pelangi partai-partai politik merah-kuning-hijau di langit yang biru? Apakah legislator muslim sudah bersih dari hobi nilep anggaran? Apakah legislator muslim sudah bersih dari riwayat tamasya ke luar negeri dengan menipu pake “studi banding”? Apakah legislator muslim sudah tak tersangkut arisan proyek negara?

Mungkin ajakan umat Islam bersatu dalam pilihan politik akan memiliki basis yang kuat, tanpa harus menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu. Caranya? Berikan bukti yang otentik bahwa politikus muslim itu memang membela agama, yang berarti memperjuangkan rahmat Allah untuk bangsa Indonesia. Misalnya, gaya hidup sederhana, tanpa jam Rolex dan berbagai aksesoris mewah sejenisnya, tanpa mobil berharga “M”. Akan lebih memikat lagi, kalau seluruh pendapatan mereka dari negara sebagai anggota Dewan masuk ke Baitul Maal, dan mereka digaji oleh Baitul Maal.

Kalau tidak bisa? Ya sudah, tahu diri saja, politikus itu ya cuma pekerja biasa yang profan. Tak perlu dicanteli predikat “pembela agama”. Bisa bekerja dengan baik, bersungguh-sungguh dan jujur itu sudah bagus. Menunjukkan prestasi kerja yang bagus insya Allah mengundang doa baik segenap rakyat. Tapi, urusan pahala dan ridha hanya Allah yang punya kuasa.

Berat, Mas Bro, predikat “membela agama” di jalan politik itu. Bayangkanlah Khalifah Abu Bakar As-Siddiq, r.a., yang tak lagi mengurusi niaga, cukup hidup dengan gaji dari Baitul Maal. Ketika isteri beliau meminta dibelikan manisan, dengan apa adanya beliau bilang tak punya cukup uang. Ketika isteri beliau akhirnya berhasil menyisihkan uang gaji, dan terkumpul cukup untuk membeli manisan, apa kata beliau? “Ternyata gaji kita lebih, ya. Kita kembalikan kelebihannya itu ke Baitul Maal.”

Wallahu a’lam bi al-shawab.

Renungan Menjadi Orangtua

Kian banyak tahu kesalahan yang kubuat dalam mendidik anak, kian terang bagiku bahwa menjadi orangtua tak bisa ditamsil layaknya orang memasak. Tinggal ikuti resep, bersih-bersih, potong-potong, ulek, aduk, cemplung, panaskan, matang.

Ilmu mendidik anak tidak sama dengan tips parenting. Ilmu dari guru, pakar, buku, kuliah, seminar, workshop… semua adalah himpunan pengetahuan umum dari banyak pengalaman. Sedangkan setiap anak mengukir pengalaman dan merangkai perjalanannya sendiri.

Tak ada orang yang sempurna, dan karena itu orangtua tak diminta menjadi sempurna tahu segalanya. Anak-anak hanya butuh orangtua yang bersedia terus belajar bersama mereka.

Menjadi orangtua tak seperti memasak sekali jadi. Tidak ada resep atau tips jitu. Yang ada hanya kesempatan untuk memperbaiki. Memperbaiki dan terus memperbaiki. Hanya dengan itu aku berhak mengharapkan pertolongan dan petunjuk Allah, agar perjalananku selamat.

Semoga Allah mengampuni kesalahan-kesalahanku. Amin ya Rabbal ‘alamin.