Category Archives: Pendidikan

Buku Sangat Lama dalam Citarasa Abad Digital

Gambar di atas adalah foto cover buku How to Really Love Your Child, karya D. Ross Campbell, MD. Tapi coba perhatikan, di samping kiri kanan gambar buku itu ada kursor. Ya kursor itu adalah tombol untuk membalik halaman demi halaman.

Saya agak bingung mau menceritakan yang mana terlebih dahulu: isi bukunya atau betapa nikmatnya cara saya membaca berkat teknologi abad digital. OK, karena isi buku yang sudah ditulis terlebih dulu di paragraf ini, ya sudah saya mulai dari tentang isi bukunya.

Buku ini adalah buku lama, bahkan sangat lama, diterbitkan pertama kali saat saya baru kelas III SD, tahun 1977. Tapi, buku ini diterbitkan lagi pada tahun 2003 dan cover yang terlihat dalam foto ini adalah edisi 2003. Buku ini berisi pelajaran-pelajaran kehidupan yang dihimpun dari pengalaman Campbell selama praktik menjadi psikiater.

Buku ini memang ditulis dari latar belakang kehidupan masyarakat Amerika Serikat di era 70-an. Tapi, saya merasa seperti membaca situasi yang sangat dekat dengan masa ketika saya sudah menjadi seorang ayah. Ya, masa kini, abad teknologi informasi digital saat ini!

Buku ini diawali dengan kisah sepasang suami isteri yang sangat menyayangi, sangat mencintai putranya, Tom. Menurut Campbell, dari cara bicara dan bahasa tubuh pasangan itu, kedua orangtua Tom adalah orang yang penuh cinta (juga pemeluk agama yang taat). Tapi, mereka sampai di ruang konsultasi Campbell karena tak berdaya menghadapi sebuah masalah yang musykil, aneh dan tak terbayangkan bagi mereka.

Mengapa Tom si anak manis, penurut, sopan dan dilimpahi cinta orangtua tiba-tiba tumbuh menjadi remaja lepas kendali. Ia runtang-runtung dengan geng berandalan, ke sana kemari bikin onar. Dan, dalam pengakuannya kepada Campbell, Tom ternyata merasa tidak dicintai kedua orangtuanya!

Uraian-uraian saintifik Campbell dalam buku kecil ini (hanya 181 halaman dengan ukuran lebih kecil dari A5) sangat istimewa buat saya, sebagai bahan tulisan-tulisan di blog Peduli Pendidikan Usia Dini. Keistimewaan utamanya karena buku ini membuat saya semakin terperangah betapa banyak lagi buku yang harus saya baca. Keistimewaan kedua (ini subjektif) gaya bahasa popularnya memikat selera saya.

Sementara itu yang bisa saya ceritakan tentang isi bukunya.

Tapi, ada satu hal lagi menyenangkan (seperti saya singgung di bagian awal, buku ini bisa saya baca dengan produk teknologi digital. Sebuah app yang dapat diunduh gratis bisa menyajikan sebuah buku PDF laksana buku nyata dengan sensasi bunyi “kresek” seperti menyibak halaman demi halaman kertas.

Mungkin suatu saat nanti saya akan menulis buku untuk diunduh dan dinikmati gratis pembaca dengan cara seperti ini. Tapi, mmmm…. harus nunggu blog saya banyak tamu, kayaknya. Saya tanyakan dulu kepada para tamu, apakah buku yang ingin saya tulis penting untuk ditulis atau tidak ada gunanya. Mudah-mudahan terwujud.

Advertisements

Blog Pendidikan Anak Usia Dini

Blog pribadi ini sudah empat tahunan “melayani” saya dalam mengeluarkan berbagai macam uneg-uneg, termasuk dalam isu pendidikan. Saya memang sesekali menulis opini tentang pendidikan di media massa seperti Koran Temppo, The Jakarta Post dan website opini Geotimes.com. Namun, tentu saja, tak semua hal yang terbersit dalam pikiran bisa terakomodasi dalam artikel opini semacam itu. Apalagi, terutama untuk media cetak, ruangnya pasti terbatas. Dalam hal seperti itu, biasanya limpahan ide saya coba tuangkan dalam blog ini.

Selain itu, dengan menulis di blog pribadi, bahasa yang saya gunakan bisa sangat informal, yang tidak mungkin sesuai dengan media massa formal. Juga, blog pribadi ini saya gunakan untuk menulis hal-hal lain di luar isu pendidikan, seperti isu politik kontemporer, sesekali coretan-coretan ekspresi dalam bentuk sajak, dan apa saja yang menurut perasaan saya perlu ditumpahkan menjadi tulisan.

Nah, untuk isu pendidikan, ada kategori yang sangat saya sukai yaitu pendidikan anak usia dini. Sangat saya sukai sehingga buku pertama saya di bidang pendidikan adalah tentang pendidikan anak usia dini, yakni tentang pentingnya membangun kemampuan berbahasa anak usia dini sebagai bekal dasar kehidupan.

Kategori pendidikan anak usia dini memiliki cakupan yang sangat luas dan rasa-rasanya tidak mungkin bisa sering-sering dimuat di media massa. Namun, kalau ada yang dinamakan revolusi pendidikan, maka menurut hemat saya, pendidikan anak usia dini-lah domainnya. Karena itu, saya merasa terus terdorong untuk menulis tentang pendidikan anak usia dini.

Maka, saya pun memisahkan kategori pendidikan anak usia dini di blog lain. Ternyata saya sudah pernah membuat blog tentang pendidikan anak usia dini sekitar dua tahun lalu, tapi belum pernah saya isi artikel. Ya sudah, akhirnya sejak beberapa hari lalu, saya mulai aktifkan blog tersebut. Namanya, Peduli Pendidikan Anak Usia dini. Di blog ini, saya berusaha sedapat mungkin menyertakan infografis pada setiap tulisan. Mengapa? Karena kalau sudah mulai menulis, mentang-mentang tidak ada batasan space untuk tulisan di blog, saya suka “terbawa arus” sampai tulisan menjadi sangat panjang. Maka, supaya halamannya tidak terlihat kriting dengan huruf-huruf saja (wordy), infografis sepertinya bisa menjadi semacam kompromi. Juga, mudah-mudahan, dengan infografis, ide yang saya tuangkan dalam tulisan menjadi lebih mudah dicerna

Selain isu pendidikan, saya juga berusaha menuangkan pengalaman saya dalam dunia tulis-menulis dengan membuat blog baru, Mitra Kreativa. Blog ini sebetulnya saya ingin lebih informal dan lebih santai, tapi ternyata saya masih perlu sering latihan agar tulisan-tulisan saya menjadi lebih segar, tidak bikin pembacanya berkerut kening.

Blog ini juga saya coba jadikan sebagai sarana menuangkan hasrat terpendam untuk menghasilkan karya fiksi. Sewaktu SMA dan kuliah dulu memang saya pernah mencoba menulis cerita pendek, dan sudah coba mengirimkannya ke media massa. Tapi, belum pernah ada yang “lulus”. Dan sejak bekerja menjadi wartawan tahun 1993, hasrat menulis karya fiksi semakin terpendam. Meskipun begitu, saya tetap suka membaca karya fiksi, baik terjemahan maupun lokal, dan beberapa kali menerjemahkan novel, yakni Mr. China (Tim Clissold), Shashenka (Simon Sebag Montefiore), Tiga Dara Berhati Baja (Ruthanne Lum McCunnAnn), dan Kota Kaum Cadar (Zoe Ferraris). Kecuali Tiga Dara Berhati Baja, novel-novel itu masih bisa dipesan lewat saya.

Satu lagi, dalam menuruti hobi saya yang berurusan dengan Bahasa Inggris (ternyata saya dulu pernah kuliah di jurusan Bahasa Inggris), terkadang muncul uneg-uneg tentang belajar Bahasa Inggris. Dari pada uneg-unegnya tersimpan dalam hati, ya sudah saya pun membuat blog lain. Namanya English Reading Enthusiasts. Kenapa reading? Sebab, (ini salah satu uneg-uneg saya), sebetulnya banyak membaca buku atau artikel berbahasa Inggris adalah jalan tol untuk memperbaiki kemampuan berbahasa Inggris.


Dari banyak membaca, kita mendapatkan contoh bahasa Inggris dalam pemakaian “premium”. Pada saat yang sama, kita dapat memperkuat citarasa tatabahasa kita dalam Bahasa Inggris. Juga, dengan banyak membaca “bahasa Inggris asli”, dan bukan bahasa Indonesia yang di-Inggriskan seperti yang terkadang muncul dalam matapelajaran Bahasa Inggris, kita pun berpeluang ketularan untuk berbahasa Inggris asli.

Oh, ya, mohon dimaklumi, tampilan semua blog baru saya masih berantakan bin awut-awutan. Soalnya, saya hanya pakai begitu saja theme atau template gratisan yang sepertinya bagus, tapi saya belum punya ilmunya untuk mengutak-atik sesuai keinginan. Jadi, untuk sementara mohon dimaklumi dulu, kapan-kapan kalau sudah ada yang mengajari saya ilmu kanuragan blog, saya akan coba perbaiki tampilannya.

Mudah-mudahan blog-blog baru saya bermanfaat. Blog yang ini akan tetap saya gunakan untuk menulis hal-hal yang bersifat renungan pribadi (tadarus) dan isu lain-lain.

Salam

UNBK SMK: Sekolah Kejuruan dengan Keterampilan Tulis

Kemarin, tanggal 3 April 2017, Ujian Nasional (UN) bagi anak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dimulai. Yang menonjol dari ritual ujian akhir jenjang tahun ini, seperti tergambar dalam berbagai berita di media, adalah kesemarakan penggunaan teknologi komputer. Ujiannya dinamakan UNBK atau Ujian Nasional Berbasis Komputer. Kemajuan?

Bukan. Ini hanyalah sekadar penguatan ritual yang sesungguhnya merupakan bentuk pelanggaran. Hanya komputerisasi kegiatan yang manfaatnya dipertanyakan banyak ahli. UN melanggar Keputusan Mahkamah Agung Tahun 2009 yang memerintahkan penangguhan penyelenggaraan UN. Juga, melanggar janji politik Presiden Joko Widodo untuk menghapuskan UN.

Baiklah. Kita tinggalkan urusan hukum dan politik dari UN. Biarlah itu bergulir dalam proses adu kuat kepentingan-kepentingan yang tak bisa ditebak ujungnya. Tapi, mari coba mencerna dengan sepenuh hati UN dari sudut pandang anak-anak Indonesia yang hari ini menghadapi UN.

Ya, setelah melalui masa belajar selama tiga tahun, UN bagi anak-anak kelas III SMK adalah ibarat pintu masuk jalur nasib. Masa depannya dia akan ditentukan oleh angka-angka. Angka-angka ditentukan oleh keterampilan anak mengerjakan soal-soal dalam ritual selama tiga hari itu.

Sudah pasti jumlah maupun jangkauan soal-soal itu tidak mungkin merepresentasi pencapaian belajar selama tiga tahun. Tapi, angka-angka itulah penentu posisi anak dalam fase berikutnya, terutama dalam jalur formal. Entah melanjutkan kuliah, atau memasuki dunia kerja. Hanya angka-angka itulah yang berlaku. Itu sebabnya, UN disebut tes bertaruhan tinggi, atau dalam istilah bahasa Inggris high-stake tests.

Hanya latihan mengerjakan soal

Kondisi ini berimplikasi sangat luas. Pertama, kecenderungan untuk mereduksi belajar hanya serangkaian aktivitas dengan tujuan pokok meraih angka-angka. Dengan demikian, belajar menghabiskan energi lebih banyak untuk berlatih mengerjakan soal-soal ujian. Ekstremnya, latihan-latihan mengerjakan soal di sekolah sering dianggap tidak cukup, sehingga anak ‘terpaksa’ menambah dosisnya di lembaga-lembaga bimbingan belajar.

Kedua, dengan orientasi sempit melatih keterampilan mengerjakan soal, kesempatan pembelajaran substantif, termasuk pembangunan soft-skill yang seyogyanya menjadi menu utama sekolah kejuruan, pun tergerus. Bayangkan, ketika lulusan SMK menghadap seorang Manajer SDM sebuah perusahaan ditanya, “Apa keahlianmu yang utama?” Kalau bisa jujur, anak itu mestinya akan menjawab, “Mengerjakan soal ujian.” Mengapa? Karena masa belajar selama tiga tahun lebih difokuskan untuk terampil mengerjakan soal-soal ujian tertulis ketimbang menghasilkan portofolio sebagai lulusan sekolah kejuruan.

Ketiga, dengan pintu sortir yang seragam di seluruh Indonesia, anak-anak SMK itu sejatinya telah dijauhkan secara sistematis dari potensi-potensi riil alam yang melingkupinya. Dengan kondisi itu, seorang lulusan SMK dibuat tidak peka dan kreativitasnya dikebiri bahkan untuk sekadar bisa mengenali apa sesungguhnya potensi yang mengharapkan kehadirannya sebagai seorang lulusan SMK. Sebab, lulusan SMK hanya disiapkan untuk menjadi pegawai atau karyawan.

Hasilnya, lulusan SMK tahun demi tahun akan terus menyesaki ruang sempit lowongan kerja sebagai pegawai atau karyawan. Secara alamiah mereka tergusur dalam persaingan melawan para pencari kerja lulusan perguruan tinggi, yang jumlahnya juga terus membludak.

Berat untuk mengatakan, tapi sangat mengkhawatirkan bahwa SMK-SMK sesungguhnya diadakan hanya untuk memproduksi limbah pendidikan!

Abaikan Stimulus yang Tidak Relevan

Salah satu ciri ideal ruang belajar yang menggunakan model pembelajaran Metode Sentra adalah balai besar tanpa sekat tembok. Balai besar itu dibagi-bagi dengan sekat rak-rak yang tingginya tetap memungkinkan para guru di satu kelompok bisa saling melihat dengan rekannya di kelompok lain. Dengan demikian, jika terjadi, misalnya, kegaduhan di satu kelompok atau kelas, maka kelompok atau kelas lain bisa mendengarkan.

Dengan pengaturan seperti itu, anak belajar membiasakan diri tetap fokus pada pekerjaan dan urusan mereka, membebaskan diri dari stimulus yang tak berhubungan dengan pekerjaan dan urusan mereka. Anak-anak sekolah Batutis Al-Ilmi di Pekayon Bekasi, hampir sepanjang tahun dikunjungi para peserta pelatihan maupun observasi. Dan, belajar mereka tak terganggu. “Abaikan stimulus yang tidak berhubungan dengan pekerjaan kita,” begitu kalimat yang biasa diucapkan guru kepada anak-anak sekolah Batutis.
Beberapa pekan lalu, saya menemani para peserta pelatihan mengobservasi SD Batutis Al-Ilmi. Mereka terpesona pada ketertiban belajar anak-anak kelas IV, V dan VI SD yang menempati ruang belajar di lantai 2, Nyaris sunyi.Keadaan cukup berbeda di lantai 1, yang ditempati anak kelas I, II dan III yang, meskipun relatif lebih tertib dari anak-anak TK, sesekali masih ada anak berlari di koridor ruang kelas.
Jika terlatih fokus, anak-anak memiliki bekal untuk tahan terhadap berbagai stimulus negatif di sekiarnya. Dan yang lebih penting, lincah membawa diri dalam berbagai situasi tanpa menimbulkan gangguan pada orang lain. Mungkin alam media sosial akan elok sekali seandainya diisi oleh generasi yang fokus.
SD Batutis

Investasi Bahasa untuk Kesuksesan Akademis Anak

Perhatikanlah keterangan dalam infografis di bawah ini, yang dimuat dalam situs www.tarasegalldesign.com.
language-exposure

Pada usia tiga tahun, 85 persen koneksi-koneksi neural atau sambungan-sambungan antarsel otak sudah selesai dibentuk.Sisanya diperkirakan tuntas pada usia tujuh atau delapan tahun. Karena itu, paparan bahasa language exposure) pada usia dini merupakan unsur kritis bagi perkembangan kesehatan otak pada periode bayi.

Riset menunjukkan bahwa salah satu faktor penentu terkuat (strongest predictor) kesuksesan akademis anak di kemudian hari bukanlah status sosio-ekonomi, tingkat pendidikan orangtua, pendapatan orangtua, atau latar belakang etnis. Tapi, kualitas dan kuantitas kata yang diujarkan pada bayi pada tiga tahun pertama kehidupannya.

Apakah periode itu sudah terlewati? Anak sudah masuk TK? Tidak apa-apa. Mulailah mencari informasi apakah TK/RA/PAUD tempat putera-puteri kita belajar sudah menerapkan Metode Sentra secara murni dan konsekuen. Sebab, Metode Sentra yang murni dan konsekuen menjadikan bahasa sebagai elemen dasar dalam aktivitas belajar. Dan itu sangat berarti untuk mengisi “kesempatan 15 %” periode penyambungan sel-sel otak anak.

Namun, kesempatan berinvestasi yang lebih besar sesungguhnya ada di rumah. Apa itu? Perbanyaklah paparan berbahasa Indonesia yang baik, benar, runtut dan terstruktur untuk putera-puteri kita di rumah. Masalah paparan bahasa ini menjadi pokok perhatian serius para ahli karena terjadinya gap antara anak-anak dari keluarga miskin dan kaya. Silakan baca uraiannya dalam artikel tentang Providence Talks.

Itulah salah satu alasan saya menyusun buku panduan berbahsa Indonesia berbasis Metode Sentra. Semoga bermanfaat.

iklan-terbit

Sabarnya Para Guru Batutis

Sekolah Batutis Al-Ilmi di Pekayon Bekasi sering saya sebut dalam tulisan saya sebagai kampus universitas kehidupan. Sebutan itu bagi sebagian orang mungkin lebih terkesan sebagai sebuah metafora. Namun, kesempatan yang diberikan kepada saya (oleh kedua guru-sahabat saya, Bapak Yudhistira Massardi dan Ibu Siska Yudhistira Massardi) untuk sering berada di sana sesungguhnya adalah kesempatan belajar dalam arti harfiah. Entah itu saat melakukan observasi, membantu riset pustaka, menulis artikel untuk majalah, menyusun buku, atau (apalagi) membantu kegiatan pelatihan bagi para guru dari berbagai daerah di Indonesia.

Salah satu bagian pokok dalam aktivitas belajar saya di kampus itu adalah berinteraksi dengan para guru Sekolah Batutis. Selalu menyenangkan, mengejutkan, inspiring dan menantang. Setelah mendengarkan cerita kemajuan belajar seorang anak, misalnya, saya terdorong untuk membuka-buka literatur dan menemukan penjelasan ilmiahnya yang dalam.

Demikian pula, setelah mendengarkan cerita hasil observasi para guru peserta pelatihan, saya akan menikmati diskusi saintifik yang mendalam bersama sang trio master trainer dan trainer Metode Sentra: Ibu Siska, Mbak Taya dan Pak Yudhistira. Baik saat pelatihan, atau obrolan di rumah. Saya berdiskusi, membaca teori-teori dalam buku dan artikel, dan menemukan bentuk situasinya yang nyata di Sekolah Batutis Al-Ilmi.

Pelatihan Metode Sentra

Durasi pelatihan-pelatihan Metode Sentra (Modul 1, Modul 2 dan Modul 3) di Sekolah Batutis bisa dibilang tidak lama. Lima hari. Namun, dengan jadwal yang padat dan ketat, dari observasi, diskusi, dan simulasi serta micro-teaching, para peserta mendapatkan pemahaman paradigmatik, dasar-dasar teori dan “alat kerja” sekaligus untuk menerapkan Metode Sentra.

Jadi, ini bukan sejenis pelatihan yang bisa dilakukan dengan gaya “nitip absen”, lalu yang penting mendapatkan sertifikat buat nambah kredit portofolio kerja. Bukan. Ini pelatihan yang membuat para guru peserta tak akan mau berleha-leha. Dan bukan kebetulan bahwa para peserta, termasuk yang jauh-jauh datang dari Surabaya, Sidoarjo, Tuban, Malang, Lampung, Bengkulu, Balikpapan, bahkan Manado, rata-rata mengikuti pelatihan dengan inisiatif dan atas biaya sendiri –atau sekurang-kurangnya diutus oleh pengelola sekolah yang berniat serius hijrah dari model konvensional ke Metode Sentra.

Salah satu kesan yang kerap muncul mula-mula dari para peserta pelatihan adalah, “kok bisa, ya para guru Batutis begitu sabar menghadapi anak-anak.” Namun, seiring dengan berjalannya proses pelatihan , para peserta segera memahami bahwa para guru Batutis adalah guru-guru biasa. Ya, sudah pasti mereka bukan manusia-manusia super.

“Stamina” kesabaran dan ketelatenan para guru Batutis sejatinya adalah wujud dari pemahaman akan proses, rute  dan tujuan pembelajaran anak, serta bagaimana cara menjalaninya. Bayangkanlah kita menghadapi situasi rumit tanpa tahu ke mana muaranya dan untuk apa dihadapi, atau menanti sesuatu tanpa tahu kapan penantian berujung dan tak tahu harus berbuat apa. Siapapun kita tentu segera kehabisan energi sabar.

Sabar, sebagaimana definisi yang diajarkan dalam Al-Qur’an, melekat dalam pribadi orang-orang yang khusyu’. Siapa orang yang khusyu’? “(yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” [Q.S.2:46). Orang yang khusyu’ adalah orang yang sadar tujuan, visioner, berorientasi masa depan, mengetahui ke mana akan menuju dan tahu bagaimana mencapai tujuannya.

Begitulah pelajaran yang saya peroleh dari kesabaran para guru Batutis. Saya beruntung mendapatkan kesempatan menjadi penutur salah satu resep kesabaran para guru Batutis, yaitu berbahasa. Para guru Batutis memahami proses (tahap perkembangan anak) dan bagaimana menerapkan praktik berbahasa yang tepat dalam situasi yang tepat.

Semoga setiap manfaat –seberapapun kecilnya– yang muncul dari penuturan saya dalam buku Bahasa Mencerdaskan Bangsa menjadi amal jariyah bagi mereka. Semoga Allah swt senantiasa menjaga mereka dalam kesentosaan lahir-batin yang istiqamah, dan meridhai perjuangan mereka. Amin Allahumma Amin.

 

img-20170128-wa0002

Para Guru TK Batutis Al-Ilmi

 

 

img-20170121-wa0002

Para Guru SD Batutis Al-Ilmi

iklan-terbit

 

Momen Pengalaman Pertama, Kilometer Nol

Kata orang bijak, perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah pertama. Lalu terjadilah momen pengalaman pertama. Walau sering membunga-bungakan hati, momen pengalaman pertama sesungguhnya disediakan untuk menyalakan kesadaran bahwa aku belum apa-apa dan bukan siapa-siapa. Tapi sekurang-kurangnya, keputusan untuk menempuh langkah pertama itu seperti mengambil kesempatan dan pilihan-pilihan yang sebelumnya tidak terlihat atau tidak tersedia.

Tiba-tiba aku teringat dengan kepolosan seorang mahasiswa di tahun 1988. Jalan-jalan ke toko buku, ia terpikiat judul sebuah buku baru, Pelajaran Berpikir Edward de Bono. Sesampai di rumah, setengah mati si mahasiswa berjuang mengunyah dan mencerna isi halaman demi halaman buku itu. Berat. Tapi menarik. Menarik, tapi materinya bikin pening kepala.

Dalam keadaan demikian, ia nikmati saja keruwetan itu. Pelan-pelan ia catat kalimat atau paragraf yang memberinya momen “aha!” walau tak sepenuhnya memahami. Lalu, catatan-catatan itu dirangkai dengan imajinasinya sendiri, karena sudah pasti mahasiswa itu tak tahu menahu urusan cognitive science, psikologi popular, atau apalah, yang mungkin diperlukan untuk memahami buku berat itu. Kumpulan catatan itu kemudian diolah “sak-karepe-dhewe”, dicobatata dalam satu sudut pandang terbatas, dan dikirim ke koran Harian Umum Pelita sebagai sebuah resensi buku.

Ternyata tembus. Dan, honor Rp. 10 ribu bukan hanya memberi momen pengalaman pertama yang membunga-bungakan hati, tapi nilainya lumayan maknyus buat si mahasiswa. Taaaaaaapiiiii….. saat membaca resensi yang ditulis para penulis lain, ciut juga hatinya. “Kok, bagus-bagus amat, ya.” Syukurlah, momen pengalaman pertama sudah memberinya pilihan: terus mencari atau berhenti sama sekali. Dan ia memilih belajar.

Kini, aku merasakan kembali momen itu, kilometer nol. Deja vu. Aku pasrah mendamba masukan dan kritik pembaca atas produk pengalaman pertama ini agar tersedia lebih banyak lagi pilihan-pilihan yang bisa kutemukan. Terimakasih, para pembaca.

booksigning
iklan-buku-bahasa-merah-jingga